Siapa yang megatakan bom bunuh diri itu menyiksa diri? Pasti hanya orang kafir yang takut dengan bom bunuh diri. Bagi seorang muslim yang membela agama Allah dengan jihadnya, bom merupakan sarana menjemput mati syahid. Bom adalah kenikmatan sejati, maka menjadi tukang bom itu indah bila dikaitkan dengan jihad. Melawan kaum kafir yang bersenjata lengkap jelas tidak bisa hanya dengan diplomasi meja, tapi mereka perlu dilawan dengan diplomasi bom. Melawan Yahudi Israel dan kepentingan Amerika di negeri sejuta masjid ini adalah jihad akbar. Jadi kita tidak perlu takut mati karena ledakan bom, sebab di kamar tidur juga orang bisa mati bila ajal mejemput.
Karena itu, kini semakin jelas mereka yang mengolok pelaku jihad bom layak dipertanyakan keimanannya. Bagaimana mungkin kita berdamai dengan kaum kafir seraya mengolok dan menjatuhkan martabat umat Islam. Pasti hanya mereka yang menjadi "inlander" penjajah saja yang senang umat Islam dtindas dan dilibas. Kita sudah salah memahami masalah,sehingga kita mati rasa ketika melihat saudara seiman di Palestina dibantai secara keji oleh Yahudi. Tidak ada jalan lain kecuali kita harus menghancurkan semua tatanan yang dibangun bangsa Yahudi. Hanya jihad yang akan menghadang kekejaman Yahudi dan Nasrani.
Inilah yang sebenarnya hilang dari umat Islam. Ruh jihad kita kendur sehingga tak sanggup melawan musuh. Sampai kapan kita akan terus begini? Jangan gadaikan iman kita hanya untuk menjilat penjajah. Ingat janji Allah yang yang akan memberikan surga kepada hamba-Nya yang membela Allah.***
Selasa, 28 Juli 2009
Bom Korupsi
Kalau ada bom meledak, kita panik dan telunjuk kita saling menuding. Tapi kalau anggaran publik diteror oleh para koruptor yang mengempalng dana rakyat kita diam seribu bahasa. Padahal dampak korupsi dengan bom di Mega Kuningan jauh lebih bahaya korupsi sebab yang diledakkan adalah anggaran pembangunan. Jadi jangan-jangan yang memanfaatkan isu bom adalah para koruptor yang enggan bertanggungjawab. Mereka mendompleng pada momentum peledakan bom. Padahal mereka yang merobohkan pondasi pembangunan, tapi mereka cuci tangan dan menuding Noordin M Top sebagai biang teroris. Kepada Noordin M Top kita ucapkan selamat atas kepintarannya, tapi sayang bom Anda ditunggangi para komprador negara. Nilai jihad Anda yang membela agama dikotori oleh kepentingan ekonomi politik koruptor. Makanya para koruptor kini tidur nyenyak, sedangkan Ketua KPK Nonaktif Antasari kini sedang kesepian. Dan bisa ditebak kelak SBY-Boediono akhirnya hanya akan jadi kaki tangan penjajah Amerika yang gencar melawan teroris versi mereka sendiri.Kasian juga rakyat kita!.
Senin, 27 Juli 2009
Bom dan Islam
Bom bisa meledak oleh siapa saja dan dimana saja.Termasuk yang meledak di Mega Kuningan Jakarta. Pelakunya tidak harus muslim, sebab yang namanya kegiatan peledakan bom itu universal. Meledakkan bom adalah bahasa ungkapan atas perasaan tertindas, terzalimi dan terpinggirkan. Jadi tidak adil kalau semua sorotan diarahkan kepada kaum muslim, sebab di Irlandia yang mayoritas Kristen juga sering terjadi kekerasan dan terorisme. Maka yang bijak adalah menempatkan peledakan bom sebagai peristiwa biasa dan tidak mesti dikatakan teroris. Lihatlah bagaimana kejamnya Israel membantai muslim Palestina. Kenapa Israel tidak dihukum dengan kejahatan terorisme? Mengapa Amerika diam seribu bahasa melihat kejahatan teror Israel atas bangsa Palestina. Mengapa kejahatan Amerika menganeksasi Irak tidak disebut sebagai tindakan terorisme? Lalu mengapa kita bangsa Indonesia membeo dan jadi bangsa penurut mengikuti order Amerika? Jangan-jangan pemimpin kita adalah komprador penjajah Amerika..
Sabtu, 23 Mei 2009
Menulis Kunci Jadi Wartawan
Pindah sekolah merupakan awal yang menyiksa setidaknya pada hari pertama. Pagi itu suasana demikian cerah dan teduh. Pasalnya MTs Al-Huda Bandungbaru dikepung rerimbunan pohon bambu. Itulah sebabnya upacara bendera setiap hari Senin pun terasa tidak panas. Semua siswa-siswi seolah dimanja oleh alam sekitar sekolah. Makanya aku ikut terbawa arus sekolah. Bubar upacara semua siswa masuk kelas termasuk aku sebagai siswa pindahan. “Anak-anak, hari ini kalian dapat teman baru. Silakan kenalan dan anggap dia teman yang mengasyikkan,” ujar Kepala MTs Al-Huda, Bapak Romli mengawali perkenalan. Satu persatu siswa-siswi kelas 2 berkenalan denganku. Sayangnya, di antara sekian banyak teman sekelas yang paling aku ingat adalah Joko Sungkono, sang juara kelas yang selalu diunggulkan.
Melihat sepak terjang Joko, aku berkesimpulan bahwa Joko merupakan salah satu siswa multi talenta. Ia pintar secara akademik juga giat dalam kegiatan ke-pramuka-an. Namun dibalik itu, ia ternyata tidak trampil dalam tulis menulis, sehingga diam-diam aku mengisi kelemahan dia dengan mengorbitkan diri sebagai penulis. Awal-awal aku menulis diary, kemudian memuat karya dalam majalah dinding dan selebihnya menuangkan tulisan lewat surat menyurat. Setiap ada tulisan aku perlihatkan kepada teman-teman untuk dinilai dan diapresiasi. Mereka menjadi kritikus tulisanku. Ini dimaksudkan agar aku makin percaya diri.
Dari sini rasa percaya diri terus tumbuh dan berkembang. Berbagai peristiwa dan kejadian bisa menjadi inspirasi dan tema karya tulis. Dari seputar isu sekolah, teman-teman, pramuka dan hasil renungan dari hasil bacaan. Makanya semua direkam dialam bawah sadar agar kelak bisa dituangkan ke dalam tulisan. Namun sayang, kala itu ruang publikasi sangat terbatas. Jumlah koran dan majalah pun zaman Orde Baru jumlahnya hitungan jari. Makanya karya tulis diterbitkan secara indie label lewat fotocopi. Disebar antar teman dan selebihnya ditempel di majalah dinding.
Begitulah hari-hariku selama masa studi satu tahun setengah di MTs Al-Huda Bandungbaru. Aku sangat berhutang budi dan jasa kepada teman-teman yang telah menyediakan waktu menjadi kritikus. Atau mereka yang selalu memberikan inspirasi lewat persahabatan dan kekeluargaan. Atau mereka uang mencoba membuka kompetisi dalam prestasi dan keunggulan personal. Dari mereka aku belajar dan mendapatkan pencerahan tentang arti sebuah perbedaan status sosial dan persamaan kemanusiaan. Persahabatan yang demikian hangat tanpa sekat kaya miskin, suku dan karakter turut membentuk kepribadianku dalam menuangkan karya tulis. ***
Melihat sepak terjang Joko, aku berkesimpulan bahwa Joko merupakan salah satu siswa multi talenta. Ia pintar secara akademik juga giat dalam kegiatan ke-pramuka-an. Namun dibalik itu, ia ternyata tidak trampil dalam tulis menulis, sehingga diam-diam aku mengisi kelemahan dia dengan mengorbitkan diri sebagai penulis. Awal-awal aku menulis diary, kemudian memuat karya dalam majalah dinding dan selebihnya menuangkan tulisan lewat surat menyurat. Setiap ada tulisan aku perlihatkan kepada teman-teman untuk dinilai dan diapresiasi. Mereka menjadi kritikus tulisanku. Ini dimaksudkan agar aku makin percaya diri.
Dari sini rasa percaya diri terus tumbuh dan berkembang. Berbagai peristiwa dan kejadian bisa menjadi inspirasi dan tema karya tulis. Dari seputar isu sekolah, teman-teman, pramuka dan hasil renungan dari hasil bacaan. Makanya semua direkam dialam bawah sadar agar kelak bisa dituangkan ke dalam tulisan. Namun sayang, kala itu ruang publikasi sangat terbatas. Jumlah koran dan majalah pun zaman Orde Baru jumlahnya hitungan jari. Makanya karya tulis diterbitkan secara indie label lewat fotocopi. Disebar antar teman dan selebihnya ditempel di majalah dinding.
Begitulah hari-hariku selama masa studi satu tahun setengah di MTs Al-Huda Bandungbaru. Aku sangat berhutang budi dan jasa kepada teman-teman yang telah menyediakan waktu menjadi kritikus. Atau mereka yang selalu memberikan inspirasi lewat persahabatan dan kekeluargaan. Atau mereka uang mencoba membuka kompetisi dalam prestasi dan keunggulan personal. Dari mereka aku belajar dan mendapatkan pencerahan tentang arti sebuah perbedaan status sosial dan persamaan kemanusiaan. Persahabatan yang demikian hangat tanpa sekat kaya miskin, suku dan karakter turut membentuk kepribadianku dalam menuangkan karya tulis. ***
Menulis itu Indah..
Untuk bisa menulis tidak harus menjadi wartawan. Tapi untuk jadi wartawan mutlak harus bisa menulis. Maka orang yang senang dan menjalani kerja lewat karya tulis peluangnya besar untuk menjadi wartawan sejati. Kalau akhirnya aku menerjuni dunia kewartawanan, itu semata-mata berkah dan hikmah dari kegemaran menulis serta bergaul dengan orang-orang berilmu dan beramal soleh. Tanpa jasa mereka aku tidak akan menjadi apa-apa, sebab kehidupan tak memberikan kesempatan emas untukku. Maka hidup bersama orang yang menjunjung tinggi keilmuan terasa dalam manfaatnya. Begitulah yang aku alami selama menjalani masa studi di MTs Sukoharjo.
Tanpa terasa pergulatan di rumah orang tua asuh menumbuhkan hobi dan bakat menulis. Setiap hari aku membaca dan menulis, sehingga tiada hari tanpa menulis. Yang pertama aku tulis adalah gelinjang kata hati. Apapun yang aku rasakan semua kutuliskan di buku harian, sebab buku harian kala itu merupakan satu-satunya media mencurahkan kegundahan. Masa kreatif menulis ini seperti mendapatkan lahannya setalah Kiyai Sutarto, yang juga anak H.Idris memberikan dorongan. “Kamu berbakat nak, saya yakin kelak kamu akan jadi orang yang sukes,” begitu ucap Kiyai Sutarto memberikan semangat.
Maka aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Semua buku koleksi Kiyai Sutarto aku lahab, mulai dari bahasa arab, akidah, filsafat, tafsir, hadits dan yang paling aku adalah buku-buku tasawuf. Bahkan kitab Al-Hikam karya Ibu Athoillah setiap waktu aku telaah dan sebagian diambil intiasarinya. Sebagian isinya ditulis dalam catatan harian, dan sebagian lagi dijadikan bahan amalan bersama zikir khas tarekat Naqsabandiyah dan Wahidiyah. Usia SMP sejatinya belum boleh mempelajari ilmu Tasawuf, tapi aku sudah mendalami dan mengikuti riyadhoh. Dari sini aku mendapatkan banyak pelajaran dari perenungan dan pengembaraan rohani. Begitu asyiknya, sampai aku lupa atas semua derita harian yang dirasakan oleh ragaku. Imajinasi liarku pun makin tak terbendung. Rupanya bakat intelektual kepenulisanku terendus guru bahasa Indonesia di MTs ,Bapak Nazarudin, alumni IKIP Yogyakarta.
Guru yang dikenal sederhana dan rendah hati ini diam-diam memberikan semangat tatkala pelajaran apresiasi sastra. Ia banyak cerita orang-orang yang sukses dengan karya besarnya, salah satunya Chairil Anwar. Bahkan ia memberikan contoh karyanya dalam menulis cerpen dan puisi. Sebenarnya aku saat itu kurang memahami semua penjelasan beliau, namun substansi dari pelajaran beliau meresap dalam benakku. Ya, aku harus membuktikan bahwa menulis karangan apapun bentuknya merupakan lahan kehidupan. Begitu kesimpulanku setiap kali Bapak Nazarudin menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin inilah jasa beliau menyiapkan diriku menjadi penulis.
Dukungan di rumah tinggal H.Idris yang menyediakan banyak koleksi buku dan kitab serta dorongan guru di sekolah telah melahirkan energi baru. Setidaknya aku mampu mensinergikan kekuatan tersebut menjadi sebuah kreatifitas. Maka tak heran jika majalah dinding selalu diisi karya tulisku, dan kala itu betapa bangganya karyaku dibaca oleh teman-teman berbagai kelas. Hari-hari sekolah menjadi hari yang menyenangkan sebab setiap karya tulisku selalu mendapatkan sambutan. Sayangnya masa indah dalam kepenulisan di MTs Sukoharjo harus berakhir setelah ada insiden pemukulan guru M.Yasin kepadaku. Hari itu setelah kalah berdebat, pak Yasin marah dan memukulku yang berujung dengan perang dingin hingga aku keluar dan pindah ke MTs Al-Huda Bandungbaru, Lampung. Aku meninggalkan teman dan guruku yang telah memberikan banyak inspirasi kepenulisan. Peristiwa ini memacuku agar terus berkarya. Aku makin bersemangat menulis apa saja yang selalu mengganjal dihati. Semua aku tulis demi sebuah sebuah idealisme dan jihad. ***
Tanpa terasa pergulatan di rumah orang tua asuh menumbuhkan hobi dan bakat menulis. Setiap hari aku membaca dan menulis, sehingga tiada hari tanpa menulis. Yang pertama aku tulis adalah gelinjang kata hati. Apapun yang aku rasakan semua kutuliskan di buku harian, sebab buku harian kala itu merupakan satu-satunya media mencurahkan kegundahan. Masa kreatif menulis ini seperti mendapatkan lahannya setalah Kiyai Sutarto, yang juga anak H.Idris memberikan dorongan. “Kamu berbakat nak, saya yakin kelak kamu akan jadi orang yang sukes,” begitu ucap Kiyai Sutarto memberikan semangat.
Maka aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Semua buku koleksi Kiyai Sutarto aku lahab, mulai dari bahasa arab, akidah, filsafat, tafsir, hadits dan yang paling aku adalah buku-buku tasawuf. Bahkan kitab Al-Hikam karya Ibu Athoillah setiap waktu aku telaah dan sebagian diambil intiasarinya. Sebagian isinya ditulis dalam catatan harian, dan sebagian lagi dijadikan bahan amalan bersama zikir khas tarekat Naqsabandiyah dan Wahidiyah. Usia SMP sejatinya belum boleh mempelajari ilmu Tasawuf, tapi aku sudah mendalami dan mengikuti riyadhoh. Dari sini aku mendapatkan banyak pelajaran dari perenungan dan pengembaraan rohani. Begitu asyiknya, sampai aku lupa atas semua derita harian yang dirasakan oleh ragaku. Imajinasi liarku pun makin tak terbendung. Rupanya bakat intelektual kepenulisanku terendus guru bahasa Indonesia di MTs ,Bapak Nazarudin, alumni IKIP Yogyakarta.
Guru yang dikenal sederhana dan rendah hati ini diam-diam memberikan semangat tatkala pelajaran apresiasi sastra. Ia banyak cerita orang-orang yang sukses dengan karya besarnya, salah satunya Chairil Anwar. Bahkan ia memberikan contoh karyanya dalam menulis cerpen dan puisi. Sebenarnya aku saat itu kurang memahami semua penjelasan beliau, namun substansi dari pelajaran beliau meresap dalam benakku. Ya, aku harus membuktikan bahwa menulis karangan apapun bentuknya merupakan lahan kehidupan. Begitu kesimpulanku setiap kali Bapak Nazarudin menerangkan pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin inilah jasa beliau menyiapkan diriku menjadi penulis.
Dukungan di rumah tinggal H.Idris yang menyediakan banyak koleksi buku dan kitab serta dorongan guru di sekolah telah melahirkan energi baru. Setidaknya aku mampu mensinergikan kekuatan tersebut menjadi sebuah kreatifitas. Maka tak heran jika majalah dinding selalu diisi karya tulisku, dan kala itu betapa bangganya karyaku dibaca oleh teman-teman berbagai kelas. Hari-hari sekolah menjadi hari yang menyenangkan sebab setiap karya tulisku selalu mendapatkan sambutan. Sayangnya masa indah dalam kepenulisan di MTs Sukoharjo harus berakhir setelah ada insiden pemukulan guru M.Yasin kepadaku. Hari itu setelah kalah berdebat, pak Yasin marah dan memukulku yang berujung dengan perang dingin hingga aku keluar dan pindah ke MTs Al-Huda Bandungbaru, Lampung. Aku meninggalkan teman dan guruku yang telah memberikan banyak inspirasi kepenulisan. Peristiwa ini memacuku agar terus berkarya. Aku makin bersemangat menulis apa saja yang selalu mengganjal dihati. Semua aku tulis demi sebuah sebuah idealisme dan jihad. ***
Jumat, 15 Mei 2009
Ditengah Derita, Awal Jadi Wartawan
Pada tahun 1983 kondisi rumah tangga pasangan Sumaji-Nurkhasiani berada dalam bahaya dan morat marit. Setidaknya itu kesan yang aku tangkap sebagai anak kecil yang baru kelas 2 SD. Sebagai anak kecil, aku bermimpi akan mendapatkan semuanya, terutama kasih sayang dari ibu tiri dan ayah. Namun impian itu harus buyar dan kandas. Sebab Sumaji, yang tak lain ayahku sendiri sejak menikah yang kedua kurang perhatian kepada anak yang dulu. Ia serahkan semua kepada mamak (ibu) tiri yang kala itu sangat tidak peduli. Setiap pagi mau berangkat ke sekolah, aku harus menyalakan tungku dan merebus air dan kadang membuat sarapan sendiri. Bajuku pun kusut dan lusuh. Setrika arang yang biasa dipakai menyetrika jarang dipakai untuk menyetrika bajuku. Sepatu juga jarang dibelikan, sehingga kadang aku sekolah dengan bersandal dan seringnya “nyeker” (tanpa alas kaki).
Bahkan sampai celana seragamku sobek dan rusak, mamak Nur, pun masih cuek. Sampai suatu ketika celana yang sobek itu dijahit oleh ibu Sujatman, yang tak lain ibunya Indrawati, teman sekelas. Pokoknya aku seperti anak yang tidak terurus, kurus dan kusut. Makan tidak teratur dan setiap sekolah tidak bisa jajan karena tidak diberi bekal uang jajan. Sudah segala dicueki, sepulang sekolah aku masih dapat tugas mencari kayu bakar. Setiap sore aku ke kebun mencari kayu bakar, begitu seterusnya sampai aku kelas 6 SD. Itupun kadang aku harus menerima hardikan, kemarahan dan kejengkelan. Mamak benar-benar menjadi bos. Itu terjadi di saat anak pertama Asnuri Yusuf masih bayi dan aku pun jadi jongosnya.
Perlakuan kasar dari Mamak Nur itu demikian menyayat dan membekas dalam hati. Dan lama-lama aku menyimpulkan bahwa sebenarnya Mamak tidak sayang kepadaku. Ya, ia tidak sayang sebab apapun yang dilakukannya selalu meneror dan menyakiti aku. Tidak ada niat dia memberikan pendidikan kepada anaknya. Itulah sebabnya aku akan memberikan pelajaran kelak kemudian hari, begitu suara hatiku. Aku sering menangis dan meratap, tapi tidak bisa mengadu ke ayah Sumaji sebab ia pasti tidak akan mendengar. Aku punya catatan buruk tentang ibu tiri, itu mengendap hingga aku memutuskan tidak mau diasuh lagi oleh Mamak Nur. Ditambah lagi adikku Hafiatus Sania pun harus merasakan perlakuan sama hingga ia memilih tidak sekolah. Dan terakhir adikku Nurkholis, ternyata tak beda jauh nasibnya dengan aku yang lebih dulu disakiti.
Tiada hari tanpa penderitaan. Maka untuk melepaskan kepenatan dan kejenuhan bersama mamak Nur, aku memilih berpisah. Daripada sengsara di negeri sendiri bersama ibu tiri, lebih baik sengsara bersama orang lain. Akhirnya setamat SD, aku memutuskan ngenger (ikut orang) di rumah Mbah H. Idris. Rupanya Allah mendengar doaku, aku akhirnya diterima sebagai anak asuh di Mbah Idris. Inilah momentum titik balik yang merubah semua jalan hidupku. Secara fisik, aku sebenarnya sangat lelah, sebab selama di Mbah Idris kerjaan rutinku adalah mengurus peternakan ayam yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Tapi itulah harga yang harus aku bayar demi bisa sekolah di MTs Sukoharjo. Disinilah aku dibuat sangat sibuk sekali tapi justru aku punya keleluasaan berimajinasi tentang masa depan. Di kandang ayam yang luas itu aku bisa membayangkan bakal jadi apa aku ini.
Salah satu bayangan cita-citaku kala itu adalah kelak aku akan jadi orang yang menguasai dunia. Dan guru bahasa Indonesiaku memberikan gambaran bahwa orang yang disebut raja dunia itu wartawan atau jurnalis. Mereka menguasai informasi maka mereka menggenggam dunia. Itulah pertama aku berani membangun kepercayaan diri bahwa nasibku barada ditanganku, sedang bapak dan ibu asuh hanya menghantarkan sampai ke pintu gerbang perubahan. Aku merasakan langsung, selama tiga tahun bersama bapak dan ibu asuh inilah aku mengalami banyak pengayaan keilmuan, karena di rumah bapak asuh ada koleksi ratusan buku dan kitab klasik. Setiap ada waktu senggang, habis mengaji Quran dan mejahadah (zikir bersama), aku membaca buku sampai tamat. Tanpa terasa semua buku sudah dibaca semuanya.
Dari kebiasaan banyak membaca, aku pun mulai mencoba menggapai asa dengan latihan menulis. Aku menggantung asa bahwa kelak aku akan menjadi penulis unggul seperti Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Makanya aku selalu menyiapkan buku harian untuk menulis semua peristiwa untuk menjadi bahan inspirasi menulis. Kemudian semua tulisan di buku harian aku transfer idenya untuk mengembangkan tulisan baik opini, berita maupun feature. Tak sengaja akupun menerjuni dunia wartawan alias jurnalis. Inilah titik balik kehidupanku kelak.***
Bahkan sampai celana seragamku sobek dan rusak, mamak Nur, pun masih cuek. Sampai suatu ketika celana yang sobek itu dijahit oleh ibu Sujatman, yang tak lain ibunya Indrawati, teman sekelas. Pokoknya aku seperti anak yang tidak terurus, kurus dan kusut. Makan tidak teratur dan setiap sekolah tidak bisa jajan karena tidak diberi bekal uang jajan. Sudah segala dicueki, sepulang sekolah aku masih dapat tugas mencari kayu bakar. Setiap sore aku ke kebun mencari kayu bakar, begitu seterusnya sampai aku kelas 6 SD. Itupun kadang aku harus menerima hardikan, kemarahan dan kejengkelan. Mamak benar-benar menjadi bos. Itu terjadi di saat anak pertama Asnuri Yusuf masih bayi dan aku pun jadi jongosnya.
Perlakuan kasar dari Mamak Nur itu demikian menyayat dan membekas dalam hati. Dan lama-lama aku menyimpulkan bahwa sebenarnya Mamak tidak sayang kepadaku. Ya, ia tidak sayang sebab apapun yang dilakukannya selalu meneror dan menyakiti aku. Tidak ada niat dia memberikan pendidikan kepada anaknya. Itulah sebabnya aku akan memberikan pelajaran kelak kemudian hari, begitu suara hatiku. Aku sering menangis dan meratap, tapi tidak bisa mengadu ke ayah Sumaji sebab ia pasti tidak akan mendengar. Aku punya catatan buruk tentang ibu tiri, itu mengendap hingga aku memutuskan tidak mau diasuh lagi oleh Mamak Nur. Ditambah lagi adikku Hafiatus Sania pun harus merasakan perlakuan sama hingga ia memilih tidak sekolah. Dan terakhir adikku Nurkholis, ternyata tak beda jauh nasibnya dengan aku yang lebih dulu disakiti.
Tiada hari tanpa penderitaan. Maka untuk melepaskan kepenatan dan kejenuhan bersama mamak Nur, aku memilih berpisah. Daripada sengsara di negeri sendiri bersama ibu tiri, lebih baik sengsara bersama orang lain. Akhirnya setamat SD, aku memutuskan ngenger (ikut orang) di rumah Mbah H. Idris. Rupanya Allah mendengar doaku, aku akhirnya diterima sebagai anak asuh di Mbah Idris. Inilah momentum titik balik yang merubah semua jalan hidupku. Secara fisik, aku sebenarnya sangat lelah, sebab selama di Mbah Idris kerjaan rutinku adalah mengurus peternakan ayam yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Tapi itulah harga yang harus aku bayar demi bisa sekolah di MTs Sukoharjo. Disinilah aku dibuat sangat sibuk sekali tapi justru aku punya keleluasaan berimajinasi tentang masa depan. Di kandang ayam yang luas itu aku bisa membayangkan bakal jadi apa aku ini.
Salah satu bayangan cita-citaku kala itu adalah kelak aku akan jadi orang yang menguasai dunia. Dan guru bahasa Indonesiaku memberikan gambaran bahwa orang yang disebut raja dunia itu wartawan atau jurnalis. Mereka menguasai informasi maka mereka menggenggam dunia. Itulah pertama aku berani membangun kepercayaan diri bahwa nasibku barada ditanganku, sedang bapak dan ibu asuh hanya menghantarkan sampai ke pintu gerbang perubahan. Aku merasakan langsung, selama tiga tahun bersama bapak dan ibu asuh inilah aku mengalami banyak pengayaan keilmuan, karena di rumah bapak asuh ada koleksi ratusan buku dan kitab klasik. Setiap ada waktu senggang, habis mengaji Quran dan mejahadah (zikir bersama), aku membaca buku sampai tamat. Tanpa terasa semua buku sudah dibaca semuanya.
Dari kebiasaan banyak membaca, aku pun mulai mencoba menggapai asa dengan latihan menulis. Aku menggantung asa bahwa kelak aku akan menjadi penulis unggul seperti Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Makanya aku selalu menyiapkan buku harian untuk menulis semua peristiwa untuk menjadi bahan inspirasi menulis. Kemudian semua tulisan di buku harian aku transfer idenya untuk mengembangkan tulisan baik opini, berita maupun feature. Tak sengaja akupun menerjuni dunia wartawan alias jurnalis. Inilah titik balik kehidupanku kelak.***
Langganan:
Postingan (Atom)