Tuhan senantiasa menyuruh ummat-Nya untuk berbuat baik. Namun dalam kenyataannya, kebaikan telah dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga kita makin sulit membedakan mana kebaikan yang tulus dan palsu.Mereka yang mendarmakan hidupnya demi ketulusan kini justru jadi pecundang dan musuh bersama. Sedangkan mereka yang mengemas kepalsuan menjadi kebaikan menjadi pahlawan yang dipuja-puja. Ketulusan yang sedarah dengan keikhlasan kini makin dibenci manusia.
Setiap kebaikan apapun bentuknya kini selalu dibumbui dengan kepentingan dan motif riya dan pamer. Kita memberi karena ingin imbalan dari manusia, demi gengsi, atau jabatan prestise. Kalau yang kita beri kebaikan tak memberikan imbalan, kita pun marah-marah. Sekarang lebih lucu lagi, para penerima kebaikan sekarang sering marah-marah hanya karena sang pemberi kebaikan terlalu tulus dan ikhlas. Mengapa marah ? Karena mereka yang ikhlas tidak mau kebaikannya rusak oleh riya, kesombongan dan pujian manusia. Makanya orang yang ingin menyembunyikan amalnya kini bisa dicurigai.
Seorang guru sufi menjelaskan, kebaikan yang tidak ikhlas, palsu dan penuh trik kejahatan sesungguhnya itulah kebaikan yang membunuh. Mereka seperti memberikan madu, tapi sejatinya racun yang diberikan. Berapa banyak orang yang masuk penjara dan mati hina dina hanya gara-gara menerima suap, uang korupsi dan uang haram lainnya atas nama amal? Memberikan kebaikan dari sumber yang haram sesungguhnya membunuh si penerima dengan cara yang keji.
Tapi dunia memang sudah gila, banyak orang yang berbahagia menerima kebaikan yang bersumber dari sesuatu yang haram. Mereka sudah tidak mau mengaudit lagi dari mana asal usul kebaikan. Sehingga jangan salahkan jika kemudian Tuhan murka dengan caranya sendiri. Jangan pula marah jika Tuhan mencabut berkah-Nya. Akhirnya, semua kembali kepada kita, mau tetap bersih dan ikhlas dalam memberikan kebaikan, atau menjual kebaikan palsu untuk kepentingan kita.***
Rabu, 23 September 2009
Indahnya Cobaan
Bisakah yang namanya cobaan dan kesulitan menjadi indah di mata manusia? Kalau melihat kodrat manusia yang tidak mau sulit dan bersusah payah, maka semua hal yang bikin tidak enak pasti dihindari oleh manusia.Jutaan rupiah telah dihabiskan oleh manusia untuk menghindari cobaan dan kesulitan. Sebagian berhasil dan kebanyakan manusia gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan. Bagi yang berhasil mengatasi cobaan dan kesulitan, ia dikatakan sukses hidupnya. Sebaliknya yang gagal menjalani akan terjerumus dalam kelam, sunyi dan suram. Semua ini akan senantiasa menyertai jalan hidup manusia sampai ajal menjemput. Jadi dimanakah indahnya cobaan?
Seorang guru sufi menjelaskan,cobaan dan kesulitan hakekatnya adalah pil pahit yang menyehatkan bagi manusia. Ia bisa menjadi penyembuh bagi mereka yang masih memaknai hidup adalah semangat dan optimis. Sebaliknya bagi yang sudah menurun semangat hidupnya, diberi pil pahit justru makin parah penyakitnya. Ia akan lunglai dan terjebak dalam kemurungan yang akhirnya hancur hidupnya. Ia menjemput akhir hayat dengan muka kecut dan pedih.Berapa banyak manusia yang tenggelam dalam kehinaan hanya gara-gara gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan?
Kini makin jelaslah bahwa cobaan dan kesulitan selama menjalani kehidupan akan terasa indah manakala dimaknai sebagai obat. Tak ada yang perlu disesali dan diratapi semua yang telah terjadi. Optimisme adalah bagaimana kita mampu mengubur kepahitan dalam samudra kelapangan untuk menjemput masa depan yang cerah. Terlalu sayang jika hidup yang singkat ini hanya diisi dengan kemurungan, keputusasaan dan semua aktifitas yang membawa kehancuran.
Orang beriman akan terus berjihad mengubah kepahitan menjadi manis. Orang berimana menerima cobaan sebagai lahan amal, karena dengan cobaan tersebut kita bisa bersyukur, bersabar dan banyak meminta ampun. Cobaan dan kesulitan adalah tanda sayang dari Allah kepada hamba-Nya. Kalau begitu semestinya cobaan dan kesulitan makin indah...***
Seorang guru sufi menjelaskan,cobaan dan kesulitan hakekatnya adalah pil pahit yang menyehatkan bagi manusia. Ia bisa menjadi penyembuh bagi mereka yang masih memaknai hidup adalah semangat dan optimis. Sebaliknya bagi yang sudah menurun semangat hidupnya, diberi pil pahit justru makin parah penyakitnya. Ia akan lunglai dan terjebak dalam kemurungan yang akhirnya hancur hidupnya. Ia menjemput akhir hayat dengan muka kecut dan pedih.Berapa banyak manusia yang tenggelam dalam kehinaan hanya gara-gara gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan?
Kini makin jelaslah bahwa cobaan dan kesulitan selama menjalani kehidupan akan terasa indah manakala dimaknai sebagai obat. Tak ada yang perlu disesali dan diratapi semua yang telah terjadi. Optimisme adalah bagaimana kita mampu mengubur kepahitan dalam samudra kelapangan untuk menjemput masa depan yang cerah. Terlalu sayang jika hidup yang singkat ini hanya diisi dengan kemurungan, keputusasaan dan semua aktifitas yang membawa kehancuran.
Orang beriman akan terus berjihad mengubah kepahitan menjadi manis. Orang berimana menerima cobaan sebagai lahan amal, karena dengan cobaan tersebut kita bisa bersyukur, bersabar dan banyak meminta ampun. Cobaan dan kesulitan adalah tanda sayang dari Allah kepada hamba-Nya. Kalau begitu semestinya cobaan dan kesulitan makin indah...***
Jumat, 18 September 2009
Muhasabah Cinta
Apa yang membuat semua kehidupan ini demikian harmonis dan indah ? Jawabnya adalah cinta, sebuah kata yang sarat dengan tafsir dan makna. Dengan cinta yang jauh jadi dekat, yang keras menjadi lembut dan yang lemah menjadi kuat. Tentu saja cinta yang diletakkan dalam bingkai rahmat dan ridho Allah, bukan cinta yang dibangun diatas pondasi nafsu syahwat . Cinta dibawah ridho Allah inilah yang akan menemukan keabadian. Ia akan terus menerus bermetamorfosis dan memperbarui dirinya agar terus membawa nikmat bagi manusia. Namun manusia banyak yang salah mempersepsi cinta dan kemudian mengacaukannya dengan nafsu, baik nafsu syahwat, kekuasaan dan ekonomis. Cinta yang semestinya menghidupkan, malah merusak dan mematikan pemiliknya. Ia membakar dan memusnahkan semuanya tanpa menyisakan apapun.Itulah yang termaktub dalam kisah-kisah peperangan antar kerajaan dan negara modern.
Cinta dan kebencian saling berebut ruang untuk menancapkan eksistensinya. Pada awalnya cinta menjadi senjata yang bisa merekatkan hubungan antar manusia. Namun ketika cinta tak sanggup menyatukan perbedaan, maka api permusuhanlah yang datang kemudian. Cinta pun sirna berganti menjadi kebencian yang akhirnya membakar. Ada banyak alasan mengapa kebencian begitu menguasai hati manusia, di antaranya adanya perasaan egois dan merasa lebih dibanding yang lain. Makanya mereka yang hatinya diliputi kebencian dan dendam akan terus melakukan kerusakan, penistaan dan melakukan kekejaman. Bangsa Yahudi dengan negara Israel-nya misalnya akan terus menebar kebencian dan teror kepada bangsa Palestina. Ini buah dari sebuah konstruksi kebencian yang berabad-abad.
Bagaimana dengan kita ? Secara individu, kita dikaruniai potensi cinta dan benci yang harus ditempatkan sesuai dengan ruang dan waktu. Cinta yang bersumber dari Allah harus ditempatkan dalam ruang dan waktu yang sesuai dengan keinginan Allah lewat wahyu-Nya. Ia harus tumbuh dalam ruang hati yang bersih hanya karena Allah, sehingga ketika cinta tersebut dipancarkan akan mendatangkan kemaslahatan kepada semua makhluk. Cinta yang membawa kemaslahatan ini tentu saja tidak akan lahir dari pribadi yang kotor dan hamba hawa nafsu. Cinta yang penuh ketulusan hanya tumbuh dalam pribadi insan beriman, bertauhid dan ma’riftullah. Masih adakah manusia jenis ini ? Tampaknya semakin langka.
Sekarang dunia dipenuhi cinta dan benci yang dipancarkan oleh manusia yang berhati kotor, busuk dan munafik. Orang jenis ini membalut cinta dengan kebencian sehingga cintanya bisa membunuh. Bila cintanya saja dapat membunuh, apatah lagi kebenciannya. Sederetan kasus kriminal yang termuat oleh media massa selalu bermotif asmara. Ini membuktikan betapa cinta yang dibumbui dengan nafsu melahirkan petaka yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini semua kembali kepada kita masing-masing, mau memilih yang mana.Setiap pilihan akan selalu membawa resiko, dan dari sanalah kita tahu mana yang paling baik untuk kita.***
Cinta dan kebencian saling berebut ruang untuk menancapkan eksistensinya. Pada awalnya cinta menjadi senjata yang bisa merekatkan hubungan antar manusia. Namun ketika cinta tak sanggup menyatukan perbedaan, maka api permusuhanlah yang datang kemudian. Cinta pun sirna berganti menjadi kebencian yang akhirnya membakar. Ada banyak alasan mengapa kebencian begitu menguasai hati manusia, di antaranya adanya perasaan egois dan merasa lebih dibanding yang lain. Makanya mereka yang hatinya diliputi kebencian dan dendam akan terus melakukan kerusakan, penistaan dan melakukan kekejaman. Bangsa Yahudi dengan negara Israel-nya misalnya akan terus menebar kebencian dan teror kepada bangsa Palestina. Ini buah dari sebuah konstruksi kebencian yang berabad-abad.
Bagaimana dengan kita ? Secara individu, kita dikaruniai potensi cinta dan benci yang harus ditempatkan sesuai dengan ruang dan waktu. Cinta yang bersumber dari Allah harus ditempatkan dalam ruang dan waktu yang sesuai dengan keinginan Allah lewat wahyu-Nya. Ia harus tumbuh dalam ruang hati yang bersih hanya karena Allah, sehingga ketika cinta tersebut dipancarkan akan mendatangkan kemaslahatan kepada semua makhluk. Cinta yang membawa kemaslahatan ini tentu saja tidak akan lahir dari pribadi yang kotor dan hamba hawa nafsu. Cinta yang penuh ketulusan hanya tumbuh dalam pribadi insan beriman, bertauhid dan ma’riftullah. Masih adakah manusia jenis ini ? Tampaknya semakin langka.
Sekarang dunia dipenuhi cinta dan benci yang dipancarkan oleh manusia yang berhati kotor, busuk dan munafik. Orang jenis ini membalut cinta dengan kebencian sehingga cintanya bisa membunuh. Bila cintanya saja dapat membunuh, apatah lagi kebenciannya. Sederetan kasus kriminal yang termuat oleh media massa selalu bermotif asmara. Ini membuktikan betapa cinta yang dibumbui dengan nafsu melahirkan petaka yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini semua kembali kepada kita masing-masing, mau memilih yang mana.Setiap pilihan akan selalu membawa resiko, dan dari sanalah kita tahu mana yang paling baik untuk kita.***
Sabtu, 05 September 2009
Gempa Bumi, Isyarat Apa?
Gempa bumi pekan lalu menyisakan banyak derita dan hikmah. Bagi yang tidak beriman peristiwa gempa bumi hanyalah kejadian alam. Sedangkan bagi insan beriman, ada sejuta hikmah yang bisa diambil sebagai ibroh. Orang Islam sudah mengenal gempa sejak zaman Nabi Nuh lewat penuturan Al_Quran, namun pengenalan gempa ini tidak berlanjut menjadi buah kesadaran. Kita selalu telat mengambil ibroh dan hikmah, sehingga gempa tak bermakna apa-apa. Padahal kejadian gempa merupakan isyarat gaib akan datangnya tanda-tanda kemurkaan dan kemurahan Allah. Kita selama ini telah jauh meninggalkan Tuhan sebagai pusat segala aktifitas manusia. Maka gempa ini merupakan isyarat agar manusia kembali ke sang Khalik. ***
Jumat, 28 Agustus 2009
Susahnya Mengingat-Mu
Ya Allah, saat Kau beri aku nikmat, betapa beratnya aku mengingat-Mu. Kini aku dalam kesusahan baru teringat pada-Mu. Sebenarnya aku malu karena hanya mengaduh kala susah. Tapi itulah kelemahanku, maka jangan Kau hukum aku Ya Robbi, sebab aku menanti kehadiran Mu dalam Qolbu. Aku tak bisa jauh dari Mu sebab Engkau yang menggenggam hidup dan matinya makhluk. Dalam ketidakberdayaan ini aku selalu memohon perlindungan, sebab tanpa perlindungan Mu apalah dayaku. Inilah yang bisa aku minta di bulan yang penuh berkah ini. Amin
Kamis, 27 Agustus 2009
Menanti Hidayah
Kegelapan kian mencekam. Tak ada cahaya yang menerangi. Semua menjadi gelap. Karena itu, seberkas cahaya sangatlah berarti bagi mereka yang berada di kegelapan. Hati yang telah bercahaya akan mengusir sang gelap. Inilah orang yang akan tercerahkan mata batinnya.***
Minggu, 23 Agustus 2009
Ramadhan Damai
Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh berkah. Karena itu, sudah saatnya kita mengisi Ramadhan dengan amalan ibadah. Setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, maka akan sangat merugi jika kita lewatkan kesempatan ini. Tak ada waktu lagi kita bertengkar, sebab Ramadhan hanya sebulan. Maka mari kita isi Ramadhan dengan damai, agar berkah dari langit diturunkan. Selamat menunaikan ibadah puasa.!
Langganan:
Postingan (Atom)