Kalau fisik yang sakit banyak dokter yang siap memberikan obat. Tapi bagaimana dengan hati yang sakit? Siapakah yang bisa memberikan obat? Adakah dokter yang ahli? Pertanyaan ini sangat sulit dijawab meskipun banyak psikiater, psikoterapis dan ahli kejiwaan. Tapi urusan hati ternyata tetaplah otonomi diri kita sendiri. Obatnya tetap kita dan kita bukan orang lain. Kalaupun ada peran orang lain, ia hanya sebatas memandu perjalanan kita mencapai hidayah dan cahaya.
Hati yang sakit, kata ulama sufi merupakan hati yang dijangkiti berbagai penyakit dengki, takabur, zalim, amarah, dan semua jenis kejahatan yang bersumber dari bisikan jahat. Orang dengan jenis ini hatinya dipenuhi virus jahat hingga menumpuk yang akhirnya terpancar dalam prilaku fisiknya.Tak peduli siapa kita, mau kiyai, guru, pejabat, politisi, bupati atau orang miskin sekalipun. Penyakit hati bisa menyebar ke semua umat manusia. Maka siapapun kita harus mewaspadai sebab penyakit hati yang tak tersembuhkan akan berubah menjadi petaka. Hubungan sosial dan sistem jadi rusak kalau hati setiap orang dijangkiti virus jahat.
Lalu bagaimana upaya kita menyembuhkan penyakit hati ini? Kata Nabi Muhammad hati yang sakit dan keras harus banyak muhasabah dan mengingat kematian. Kalau dengan kematian masih juga keras dan tak tunduk, maka takbirkanlah karena hakekatnya ia sudah mati sebelum mati. Dia adalah mayat hidup, jasadnya kemana-mana, tapi ruhnya sudah mati dan tak memancarkan kebaikan.Kira-kira manusia semacam ini apanya yang bisa diambil manfaatnya?
Sabtu, 14 November 2009
Jumat, 13 November 2009
Menjadi Hamba Syetan
Tanda-tanda bahwa kita telah diwisuda menjadi hamba syetan adalah adanya sikap arogan dan sombong dalam pribadi kita. Dalam beberapa pekan ini kita menyaksikan bagaimana sebuah kebenaran harus diputarbalikkan. Pertarungan antara Cicak (KPK) dengan Buaya (Polri)adalah merupakan contoh bagaimana sebuah kebenaran dan keadilan bisa dengan mudah diskenariokan sesuai pesanan. Kita keblinger sehingga menyangka diri sebagai yang maha segalanya, bahkan bisa menentukan nasib dan nyawa seseorang. Takabur dan sombong diperlihatkan lewat arogansi kedinasan dan penuturan.
Bagaimana menyikapi angkara murka yang demikian dahsyat ini ? Sebagai hamba haruslah menyadari sehebat apapun ada batas yang tak bisa dilawan, yakni takdir. Kesombongan dengan berbagai turunannya sama sekali tidak pernah menentramkan dunia, ia justru menjadi sumber petaka dan musibah. Kalau pun mereka selamat atas perbuatannya, sejatinya itu bukan keselamatan. Tapi itu cara Tuhan "menghabiskan" semua usianya didunia, sehingga kelak di akherat tak satupun kelihatan sebuah kebaikan. Sebaliknya orang baik cenderung dikalahkan, ini merupakan isyarat bahwa ketika ia pulang ke negeri akherat sudah bersih karena semua dosanya telah dihapus didunia.
Maka siapapun yang kini sedang menikmati indahnya sebuah kesombongan, ia sedang menuju ke negeri Jahannam. Pasalnya kesombongan merupakan parameter untuk menguji siapa di antara manusia yang menjadi hamba Allah dan hamba Syetan. Yang dominan kesombongannya masuk golongan hamba Syetan, dan tentu saja neraka Jahannam telah menanti dengan murkanya. Maka sebelum semuanya menjadi kenyataan, dan semua belum membujur kaku, ada baiknya kita membersihkan kesombongan tersebut dari diri kita.
Bukankah tidak pantas kita terus menggendong kesombongan ? Sebab semua yang kita miliki berada dalam genggaman Allah, kita tak bisa menghindar sedikitpun. Maka hanya ada satu kata :kembalilah ke jalan Allah selagi pintu tobat amsih terbuka dan Allah masih memberi kita kesempatan memperbaiki diri.***
Bagaimana menyikapi angkara murka yang demikian dahsyat ini ? Sebagai hamba haruslah menyadari sehebat apapun ada batas yang tak bisa dilawan, yakni takdir. Kesombongan dengan berbagai turunannya sama sekali tidak pernah menentramkan dunia, ia justru menjadi sumber petaka dan musibah. Kalau pun mereka selamat atas perbuatannya, sejatinya itu bukan keselamatan. Tapi itu cara Tuhan "menghabiskan" semua usianya didunia, sehingga kelak di akherat tak satupun kelihatan sebuah kebaikan. Sebaliknya orang baik cenderung dikalahkan, ini merupakan isyarat bahwa ketika ia pulang ke negeri akherat sudah bersih karena semua dosanya telah dihapus didunia.
Maka siapapun yang kini sedang menikmati indahnya sebuah kesombongan, ia sedang menuju ke negeri Jahannam. Pasalnya kesombongan merupakan parameter untuk menguji siapa di antara manusia yang menjadi hamba Allah dan hamba Syetan. Yang dominan kesombongannya masuk golongan hamba Syetan, dan tentu saja neraka Jahannam telah menanti dengan murkanya. Maka sebelum semuanya menjadi kenyataan, dan semua belum membujur kaku, ada baiknya kita membersihkan kesombongan tersebut dari diri kita.
Bukankah tidak pantas kita terus menggendong kesombongan ? Sebab semua yang kita miliki berada dalam genggaman Allah, kita tak bisa menghindar sedikitpun. Maka hanya ada satu kata :kembalilah ke jalan Allah selagi pintu tobat amsih terbuka dan Allah masih memberi kita kesempatan memperbaiki diri.***
Minggu, 01 November 2009
Merdekakan Hati
Mengapa kita tidak pernah sampai kepada Allah ? Salah satunya adalah di hati kita ada penjajahan yang sulit dihapuskan. Setiap kita melakukan perjalanan ruhani menuju Allah, di tengah jalan selalu ada rintangan yang dilancarkan oleh penjajah. Siapakah yang bisa dikatakan sebagai penjajah? Adalah mereka yang senantiasa menghalangi jalan menuju Allah, bisa karena jabatannya,posisinya dan atau keberadaannya. Orang dengan kadar kesyetanan yang tinggi hanya akan menyuburkan penjajahan.Makanya sudah menjadi kewajiban kita menyingkirkan semua penjajah baik yang kelihatan maupun tidak.
Kamis, 22 Oktober 2009
Misteri Hati
Dalam tubuh manusia ada tiga unsur yang saling menopang kehidupan. Unsur tersebut antara lain Qolbun, Sirrun dan Ruhun. Qulbun merupakan tempat semua ilham baik dan buruk bersuara, sebab disana ada nafsu dan nurani (fitrah). Mereka yang tidak bisa mencerna dan memfilter ilham yang datang akan mengalami guncangan, sehingga apapun bisikan dalam hati akan diikuti. Kalau kebetulan bisikan ilham itu datangnya dari Cahaya Allah, manusia akan mendekat kepada Allah. Sebaliknya kalau ia terkecoh dengan ilham dari syetan, ia menjadi hamba sahaya syetan yang dianggap Tuhan.
Qolbun akan mengolah semua input ilham, kemudian diteruskan ke Sirrun, yakni pusat pengolahan rasa. Setelah menerima input ilham, sang Sirrun menerjemahkan ke dalam bahasa rasa dan perasaan, di antaranya ada rasa tenang, gelisah, cinta, was-was dan kadang benci atau amarah. Mereka yang qolbun-nya dibimbing syetan akan memaknai rasa dengan nafsu negatif. Gelisah, marah dan semua yang negatif dibahasakan dalam olah tubuh, sehingga orang menilai di sebagai manusia jahat. Sebaliknya, mereka yang berhasil mengolah ilham kebaikan, prilakunya akan soleh dan dekat dengan Tuhan.
Makanya dalam kondisi semacam ini kalau terhenti akan menghasilkan sikap plin plan atau munafik. Kemarin cinta besoknya benci, atau sebaliknya. Begitu seterusnya sampai akhirnya stress oleh campuraduknya semua rasa. Ini yang membuat banyak orang berjatuhan dan jatuh ke dalam jurang kehinaan sebagai manusia. Ia kehilangan harga diri dan muruah, karena tak mampu menterjemahkan bisikan dalam qolbunnya. Inilah benih yang mengawali manusia itu menjadi pelaku kejahatan dan kezaliman.
Bayangan semacam ini tidak akan terjadi jika manusia terus melakukan perjalanan menuju Ruhun atau spiritualitas. Didunia ruh manusia bisa menapaki ilham kebaikan. Semua yang ada tidak kelihatan, yang kelihatan hanya Allah, itulah ruh. Orang yang mampu mencapai tangga ini akan memancarkan cahaya Cinta ke semua makhluk. Cintanya kepada Allah akan memancar ke semua penjuru dunia, sehingga yang ada hanya cinta dan rahmat universal yang menyejukkan. Inilah inti perjalanan iman, makanya barangsiapa yang enggan menempuh perjalanan ruhani, ia akan terbelenggu dalam alam jasadiyah. Padahal semua yang berjasad akan hancur dan musnah. Masihkkah kita enggan mendekat kepada yang Maha Abadi dan tak pernah hancur?***
Qolbun akan mengolah semua input ilham, kemudian diteruskan ke Sirrun, yakni pusat pengolahan rasa. Setelah menerima input ilham, sang Sirrun menerjemahkan ke dalam bahasa rasa dan perasaan, di antaranya ada rasa tenang, gelisah, cinta, was-was dan kadang benci atau amarah. Mereka yang qolbun-nya dibimbing syetan akan memaknai rasa dengan nafsu negatif. Gelisah, marah dan semua yang negatif dibahasakan dalam olah tubuh, sehingga orang menilai di sebagai manusia jahat. Sebaliknya, mereka yang berhasil mengolah ilham kebaikan, prilakunya akan soleh dan dekat dengan Tuhan.
Makanya dalam kondisi semacam ini kalau terhenti akan menghasilkan sikap plin plan atau munafik. Kemarin cinta besoknya benci, atau sebaliknya. Begitu seterusnya sampai akhirnya stress oleh campuraduknya semua rasa. Ini yang membuat banyak orang berjatuhan dan jatuh ke dalam jurang kehinaan sebagai manusia. Ia kehilangan harga diri dan muruah, karena tak mampu menterjemahkan bisikan dalam qolbunnya. Inilah benih yang mengawali manusia itu menjadi pelaku kejahatan dan kezaliman.
Bayangan semacam ini tidak akan terjadi jika manusia terus melakukan perjalanan menuju Ruhun atau spiritualitas. Didunia ruh manusia bisa menapaki ilham kebaikan. Semua yang ada tidak kelihatan, yang kelihatan hanya Allah, itulah ruh. Orang yang mampu mencapai tangga ini akan memancarkan cahaya Cinta ke semua makhluk. Cintanya kepada Allah akan memancar ke semua penjuru dunia, sehingga yang ada hanya cinta dan rahmat universal yang menyejukkan. Inilah inti perjalanan iman, makanya barangsiapa yang enggan menempuh perjalanan ruhani, ia akan terbelenggu dalam alam jasadiyah. Padahal semua yang berjasad akan hancur dan musnah. Masihkkah kita enggan mendekat kepada yang Maha Abadi dan tak pernah hancur?***
Sabtu, 17 Oktober 2009
Keajaiban Doa
“Berdoalah kepadaku, niscaya doamu Aku kabulkan”. Begitulah Allah berfirman dalam Al-Quran. Dalam Islam, doa merupakan jantungnya ibadah, sebab lewat doa itulah kita berkomunikasi dan berasyikmasyuk kepada Allah. Dan Allah sangat senang mendengar hambanya merintih berdoa memohon kepada-Nya. Itulah sebabnya Allah cemburu kepada hambanya yang enggan berdoa kepada-Nya, apalagi malah berdoa kepada selain Allah. Dalam hadis qudsi Allah bersabda: Aku cemburu kepada hamba-Ku yang meminta kepada selain Aku. Padahal Akulah yang mencukupi keperluannya”. Ini adalah penegasan betapa Allah sangat memperhatikan doa hamba-Nya.
Karena itu seorang hamba yang selalu berdoa akan lancar mengkomunikasikan semua isi hatinya kepada Allah. Dan hatinya pun akan terasa ringan, tenang, bening dan bercahaya karena tidak ada beban lagi yang menindih. Sebab semuanya sudah dipasrahkan kepada Allah lewat doa-doanya. Wajah mereka yang senantiasa berdoa terlihat cerah dan optimis, karena yakin Allah ada disisinya. Makanya hidup mereka juga berjalan alamiah dan senantiasa diberkahi. Ia terus berdoa dan berdoa seraya tidak memikirkan apakah doanya dikabulkan atau tidak, sebab baginya doa adalah ungkapan jiwa.
Ketika kita diberi nikmat, doa adalah ungkapan syukur. Ketika kita diberi cobaan dan musibah, doa merupakan ungkapan kepasrahan. Ketika kita terjebak dalam dosa, doa adalah nyanyian pertobatan. Ketika kita dalam ketaatan, doa adalah alat komunikasi seorang hamba kepada penciptanya. Makanya masalah dikabul atau tidaknya doa merupakan kewenangan Allah, sebab hanya Dia yang maha mengetahui apa terbaik buat hamba-Nya. Tidak semua doa dikabulkan seketika, tapi melalui proses hukum alam.Namun ada juga yang dikabul tanpa proses alam. Tapi semua ini bukan urusan makhluk tapi hak prerogatif Allah.
Tugas kita sebagai hamba adalah hanya berdoa. Ada apa dengan doa sehingga Islam mewajibkan berdoa? Doa sebagai alat komunikasi mengandung sejumlah kekuatan dahsyat melebihi bom atom. Daya ledak dan dobraknya sangat luar biasa, terutama bila diucapkan oleh hamba yang berhati bersih, pancarannya akan sangat kuat. Masih ragukah kita ?***
Karena itu seorang hamba yang selalu berdoa akan lancar mengkomunikasikan semua isi hatinya kepada Allah. Dan hatinya pun akan terasa ringan, tenang, bening dan bercahaya karena tidak ada beban lagi yang menindih. Sebab semuanya sudah dipasrahkan kepada Allah lewat doa-doanya. Wajah mereka yang senantiasa berdoa terlihat cerah dan optimis, karena yakin Allah ada disisinya. Makanya hidup mereka juga berjalan alamiah dan senantiasa diberkahi. Ia terus berdoa dan berdoa seraya tidak memikirkan apakah doanya dikabulkan atau tidak, sebab baginya doa adalah ungkapan jiwa.
Ketika kita diberi nikmat, doa adalah ungkapan syukur. Ketika kita diberi cobaan dan musibah, doa merupakan ungkapan kepasrahan. Ketika kita terjebak dalam dosa, doa adalah nyanyian pertobatan. Ketika kita dalam ketaatan, doa adalah alat komunikasi seorang hamba kepada penciptanya. Makanya masalah dikabul atau tidaknya doa merupakan kewenangan Allah, sebab hanya Dia yang maha mengetahui apa terbaik buat hamba-Nya. Tidak semua doa dikabulkan seketika, tapi melalui proses hukum alam.Namun ada juga yang dikabul tanpa proses alam. Tapi semua ini bukan urusan makhluk tapi hak prerogatif Allah.
Tugas kita sebagai hamba adalah hanya berdoa. Ada apa dengan doa sehingga Islam mewajibkan berdoa? Doa sebagai alat komunikasi mengandung sejumlah kekuatan dahsyat melebihi bom atom. Daya ledak dan dobraknya sangat luar biasa, terutama bila diucapkan oleh hamba yang berhati bersih, pancarannya akan sangat kuat. Masih ragukah kita ?***
Jumat, 09 Oktober 2009
Menjadi Pelayan Allah
"Wahai Duniaku, layanilah hambaku yang melayani Aku", demikian Tuhan bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi. Sebagai orang beriman tidak semestinya gelisah dengan dunia selama ia bersandar kepada Allah. Dengan hanya bersandar kepada Allah, dunia dan seisinya akan ditundukkan dan melayani orang beriman. Namun sekarang terbalik, banyak orang justru menjadi pelayan dunia. Siang malam waktunya habis untuk mengurus dunia sehingga lupa melayani Allah sang pemilik dunia.
Dengan menjadi pelayan dunia, secara tidak langsung kita menghamba kepada Makhluk. Ini merupakan petaka dan bencana, ditambah lagi jika menjadikan manusia sebagai sandaran. Padahal yang namanya makhluk tidak kekal dan akan binasa. Kita hidup bukan untuk menyenangkan semua manusia, juga bukan untuk menyusahkan semua orang. Tapi kita hidup untuk yang maha Hidup, karena dari sana semua berawal dan berakhir.
Karena itu, kini saatnya kita melepas semua atribut dunia yang melenakan dan mempesona. Kita kembali kepada Allah untuk kehidupan yang kekal. Semoga dengan kita kembali ke Allah, semua isi dunia akan tunduk. Amin.
Dengan menjadi pelayan dunia, secara tidak langsung kita menghamba kepada Makhluk. Ini merupakan petaka dan bencana, ditambah lagi jika menjadikan manusia sebagai sandaran. Padahal yang namanya makhluk tidak kekal dan akan binasa. Kita hidup bukan untuk menyenangkan semua manusia, juga bukan untuk menyusahkan semua orang. Tapi kita hidup untuk yang maha Hidup, karena dari sana semua berawal dan berakhir.
Karena itu, kini saatnya kita melepas semua atribut dunia yang melenakan dan mempesona. Kita kembali kepada Allah untuk kehidupan yang kekal. Semoga dengan kita kembali ke Allah, semua isi dunia akan tunduk. Amin.
Kamis, 01 Oktober 2009
Makna Sebuah Peristiwa
Setiap peristiwa baik manis atau pahit selalu menyisakan bahan renungan. Malah Allah sengaja menjadikan kisah dan peristiwa sebagai wahana penyampaian pelajaran kepada manusia. Makanya banyak ayat dalam ALquran yang menyitir kisah yang berskala besar dan peristiwa monumental. Semua itu dimaksudkan sebagai ibroh khasanah, yakni dimabil baiknya. Kalau kita mendengar kisah buruk, berarti kita diperintah agar tidak ikut celaka. Sedangkan kisah kebaikan, kita diperintah untuk meneladani agar hidup kita menjadi lebih baik dan berkualitas.
Kisah biasannya menyangkut perjalanan manusia dan peradabannnya. Disana manusia yang anti Tuhan dan yang taat beriman bersaiang menguasai bumi yang dipijak ini. Kalau bumi dikuasai angkara murka, kerusakan yang terjadi. Sebaliknya saat bumi di bawah genggaman manusia beriman, disanalah lahir kebudayaan dan peradaban yang masyhur dan monumental.Begitu seterusnya selisih berganti, itulah sunattulah perputaran sejarah.
Kemudian yang menyangkut peristiwa, biasanya Allah menyitir peristiwa gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. Pada saat bumi dikuasai angkara murna dan kemusrikan, Allah menurunkan azab untuk menghukum kesombongan manusia. Namun tidak semua peristiwa adalah hukuman, tapi kadang ujian agar manusia segera kembali kepada jalan yang benar dan mendekat kepada sang pencipta.
Gempa bumi yang melanda saat ini boleh jadi merupakan pelajaran agar kita bertaubat atas kesalahan dan kezaliman kita sebagai manusia. Ini bagi mereka yang masih bisa disentuh hatinya. Sedangkan bagi yang ingkar, mungkin ini hukuman. Bagaimana dengan orang beriman ? Gempa bumi ini merupakan kasih sayang Allah untuk menguji keimanan dan meningkatkan kualitas amal soleh kita. Amin ***
Kisah biasannya menyangkut perjalanan manusia dan peradabannnya. Disana manusia yang anti Tuhan dan yang taat beriman bersaiang menguasai bumi yang dipijak ini. Kalau bumi dikuasai angkara murka, kerusakan yang terjadi. Sebaliknya saat bumi di bawah genggaman manusia beriman, disanalah lahir kebudayaan dan peradaban yang masyhur dan monumental.Begitu seterusnya selisih berganti, itulah sunattulah perputaran sejarah.
Kemudian yang menyangkut peristiwa, biasanya Allah menyitir peristiwa gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. Pada saat bumi dikuasai angkara murna dan kemusrikan, Allah menurunkan azab untuk menghukum kesombongan manusia. Namun tidak semua peristiwa adalah hukuman, tapi kadang ujian agar manusia segera kembali kepada jalan yang benar dan mendekat kepada sang pencipta.
Gempa bumi yang melanda saat ini boleh jadi merupakan pelajaran agar kita bertaubat atas kesalahan dan kezaliman kita sebagai manusia. Ini bagi mereka yang masih bisa disentuh hatinya. Sedangkan bagi yang ingkar, mungkin ini hukuman. Bagaimana dengan orang beriman ? Gempa bumi ini merupakan kasih sayang Allah untuk menguji keimanan dan meningkatkan kualitas amal soleh kita. Amin ***
Langganan:
Postingan (Atom)