Jumat, 26 Maret 2010
Syukur
Ilmu yang terbatas sangat berpengaruh dengan rasa syukur. Mereka yang ilmu dan pengalaman kurang senantiasa tidak bisa merasakan syukur sebab dalam dirinya selalu tertanam kekuarangan dan kegelisahan. Padahal kalau mau diteliti dan dicermati, ada banyak nikmat yang selalu diterima dari Allah. Namun karena sudah sangat terbiasa, nikmat itu serasa bukan nikmat.
Minggu, 24 Januari 2010
Salah dan Benar
Salah belum tentu sebuah kejahatan, namun setiap kejahatan pasti ada kesalahan. Demikian juga benar belum tentu baik, karena banyak kebenaran yang berdimensi keburukan. Salah- dalam pandangan umum- selalu dimaknai sebagai kejahatan meski kesalahan itu sangat manusiawi dan subyektif. Tapi kadang sebuah kejahatan tidak selalu dimaknai sebagai kejahatan bila pelakunya diposisikan sebagai pihak yang terzalimi. Orang semuanya benci dengan prilaku jahat, tapi kalau ada pelaku kejahatan dizalimi, disiksa dan dimaki, yang timbul kemudian adalah simpati. Malah kadang korban kejahatan menjadi kasihan dan melindungi sang penjahat.
Alkisah ada seorang yang disakiti dengan cara diguna-guna. Pelakunya seorang lelaki yang tentu saja sangat hebat dan punya jaringan. Korban lansung linglung dan setengah gila. Secara kasat mata yang dialami si korban adalah kejahatan, apalagi mengancam jiwa sang korban. Namun sang pelaku bukannya menjadi musuh bersama, dia justru mendapatkan simpati dari sang korban. Diam-diam si korban mencintainya, ia lupa kejahatan sang lelaki yang telah menggunainya. Usut punya usut cinta si korban itu tumbuh tatkala nama lelaki itu dibenci orang dan disudutkan. Sebaliknya ada kisah yang justru memprihatinkan. Orang baik malah jadi korban hanya gara-gara kebaikan orang tersebut sirna oleh silaunya si penjahat.
Belajar dari kisah diatas, ada baiknya jika kita dalam posisi benar dan baik, tidak ikut berkomentar apapun tentang kejahatan orang sebab bisa-bisa malah kita yang tertuduh. Benar-dalam pandangan umum- berarti tidak dalam posisi salah, namun ini belum tentu baik. Orang baik juga belum tentu benar jika berada dalam posisi dilematis dan kurang mendukung. Ada banyak orang yang merasa benar,tapi prilakunya tidak baik, maka kebenaran dia tidak bermakna apa-apa. Sebaliknya dia aslinya baik dan benar, tapi ia terperangkap dalam keputusan yang salah dan jahat, maka semuanya tidak berarti apa-apa.
Alkisah ada seorang yang disakiti dengan cara diguna-guna. Pelakunya seorang lelaki yang tentu saja sangat hebat dan punya jaringan. Korban lansung linglung dan setengah gila. Secara kasat mata yang dialami si korban adalah kejahatan, apalagi mengancam jiwa sang korban. Namun sang pelaku bukannya menjadi musuh bersama, dia justru mendapatkan simpati dari sang korban. Diam-diam si korban mencintainya, ia lupa kejahatan sang lelaki yang telah menggunainya. Usut punya usut cinta si korban itu tumbuh tatkala nama lelaki itu dibenci orang dan disudutkan. Sebaliknya ada kisah yang justru memprihatinkan. Orang baik malah jadi korban hanya gara-gara kebaikan orang tersebut sirna oleh silaunya si penjahat.
Belajar dari kisah diatas, ada baiknya jika kita dalam posisi benar dan baik, tidak ikut berkomentar apapun tentang kejahatan orang sebab bisa-bisa malah kita yang tertuduh. Benar-dalam pandangan umum- berarti tidak dalam posisi salah, namun ini belum tentu baik. Orang baik juga belum tentu benar jika berada dalam posisi dilematis dan kurang mendukung. Ada banyak orang yang merasa benar,tapi prilakunya tidak baik, maka kebenaran dia tidak bermakna apa-apa. Sebaliknya dia aslinya baik dan benar, tapi ia terperangkap dalam keputusan yang salah dan jahat, maka semuanya tidak berarti apa-apa.
Jumat, 15 Januari 2010
Menjadi Bijak
Orang bijak itu bukan orang yang tidak pernah salah. Tapi orang yang selalu belajar dari setiap kesalahan yang terjadi untuk dijadikan pelajaran ke depan. Dengan demikian prilakunya setiap hari selalu berubah menjadi baik dan mampu memahami setiap permasalahan dengan hati jernih. Hatinya mampu membaca setiap tanda-tanda tersembunyi di balik permasalahan yang muncul. Makanya pikirannya selalu terbuka menerima gagasan baru meski itu bertentangan dengan pandangannya.
Kemampuan untuk "memahami" adalah pintu masuk bagi mereka yang menempuh jalan menuju kajikan dan ke-bijak-an yang agung. Mereka yang hati dan pikirannya terbuka untuk memahami akan senantiasa berada dalam pencerahan. Inilah yang melatari orang bijak sanggup menerima dan menahan setiap permasalahan tanpa harus hancur dan larut dalam permasalahan. Ia penyelesai masalah bukan pembuat masalah, karena wawasan dan kemampuannya memahami telah menjadikan dirinya manusia mumpuni.
Untuk menjadi orang bijak, tentu saja tidak bisa sendirian, ia memerlukan proses panjang dan penuh liku. Dia harus terjun ke kancah dan konflik sehingga ia akan teruji mampukah menyelesaikan konflik secara dewasa. Disinilah kenapa banyak orang tak sanggup menjalani proses menjadi bijak, karena nafsu emosi sudah duluan muncul sebelum akal sehat dan ruhani bekerja.**
Kemampuan untuk "memahami" adalah pintu masuk bagi mereka yang menempuh jalan menuju kajikan dan ke-bijak-an yang agung. Mereka yang hati dan pikirannya terbuka untuk memahami akan senantiasa berada dalam pencerahan. Inilah yang melatari orang bijak sanggup menerima dan menahan setiap permasalahan tanpa harus hancur dan larut dalam permasalahan. Ia penyelesai masalah bukan pembuat masalah, karena wawasan dan kemampuannya memahami telah menjadikan dirinya manusia mumpuni.
Untuk menjadi orang bijak, tentu saja tidak bisa sendirian, ia memerlukan proses panjang dan penuh liku. Dia harus terjun ke kancah dan konflik sehingga ia akan teruji mampukah menyelesaikan konflik secara dewasa. Disinilah kenapa banyak orang tak sanggup menjalani proses menjadi bijak, karena nafsu emosi sudah duluan muncul sebelum akal sehat dan ruhani bekerja.**
Minggu, 20 Desember 2009
Bersyukur
Bagaimana orang bisa bersyukur kepada Allah, jika sehari-harinya ia sama sekali tidak bisa berterimakasih kepada hamba Allah yang berbuat baik kepadanya? Bagaimana ia bisa berbuat baik ke manusia, sementara hubungan dia dengan Allah rusak dan kurang harmonis? Bagaimana ia mengerti sedang ditolong, dia saja tidak sadar hidup ditolong Allah? Bagaimana dia bisa memahami sebuah musibah dari Allah, karena dia sendiri sang pembuat musibah kepada manusia. Bagaimana dia merasakan cinta Allah, dia sendiri sang perusak cinta, karena nafsu amarah lebih besar kepada manusia daripada cintanya.
Orang dengan jenis ini sejatinya sudah tidak bermakna apa-apa hidupnya. Ia tidak bisa menjadi manusia yang paling bermanfaat buat orang lain. Sebab dimana-mana ia menebar petaka dan derita, itulah sumber kebahagiaannya. Masih layakkah manusia jenis ini dijadikan sahabat, teman, suami, istri atau panutan kita? Bagaimana mungkin kita menjadikan dia orang dekat kita, padahal sewaktu-waktu ia menjahati kita dengan nafsunya. Masih adakah nilainya orang jenis ini?
Jangankan di mata Allah, di mata manusia saja dia sudah tidak berharga. Kata-kata, sikap, dan pemikirannya sudah dipandu syetan, maka masihkah kita bertahan berdekatan dengannya? Maka tak ada jalan lain, kita harus hijrah jika berdekatan dengan orang jenis ini. Kita harus tinggal orang ini, sebab mudaratnya lebih besar daripada maslahatnya. Menjadikan dia teman hanya membuang waktu dan energi.
Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan hati yang sempurna. Kita hanya perlu sedikit energi untuk mempergunakan akal dan hati sesuai harapan sang pencipta, yakni lakukan yang terbaik dibawah ridho Allah.jangan pernah mau didikte kekuatan jahat orang jenis ini, sebab disana ada bahaya yang mengancam. ***
Orang dengan jenis ini sejatinya sudah tidak bermakna apa-apa hidupnya. Ia tidak bisa menjadi manusia yang paling bermanfaat buat orang lain. Sebab dimana-mana ia menebar petaka dan derita, itulah sumber kebahagiaannya. Masih layakkah manusia jenis ini dijadikan sahabat, teman, suami, istri atau panutan kita? Bagaimana mungkin kita menjadikan dia orang dekat kita, padahal sewaktu-waktu ia menjahati kita dengan nafsunya. Masih adakah nilainya orang jenis ini?
Jangankan di mata Allah, di mata manusia saja dia sudah tidak berharga. Kata-kata, sikap, dan pemikirannya sudah dipandu syetan, maka masihkah kita bertahan berdekatan dengannya? Maka tak ada jalan lain, kita harus hijrah jika berdekatan dengan orang jenis ini. Kita harus tinggal orang ini, sebab mudaratnya lebih besar daripada maslahatnya. Menjadikan dia teman hanya membuang waktu dan energi.
Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan hati yang sempurna. Kita hanya perlu sedikit energi untuk mempergunakan akal dan hati sesuai harapan sang pencipta, yakni lakukan yang terbaik dibawah ridho Allah.jangan pernah mau didikte kekuatan jahat orang jenis ini, sebab disana ada bahaya yang mengancam. ***
Jumat, 18 Desember 2009
Cinta Sejati
Malam ini Syeh Abdul Muhyi kembali mengajar. Temanya tentang cinta sejati, dengan mengupas ayat di Surat Al Hujurat Sang murid sudah berjajar mengelilingi beliau. Mata mereka penasaran kira-kira apa yang akan disampaikan sang syeh.
"Anak-anakku, siapa yang bisa menjawab apa bedanya cinta sejati dengan cinta nafsu? Coba dijawab dan terangkan," ujar Syeh mmebuka pengajian.
Masing-masing murid menjawab dengan pengetahuannya. Tapi tak satupun mengena, sebab wawasan dan pengalaman para murid masih di bawah. Syeh hanya tersenyum. "Ya, jawaban kalian semuanya benar tapi bukan itu yang aku maksudkan," ujar Syeh.
Lalu Syeh mulai mengupas. Cinta, kata Syeh, memang anugrah dari Allah yang dihunjamkan ke dada manusia. Kalau ia jatuh ke tanah yang bukan miliknya, akan berubah menjadi petaka karena dipandu oleh nafsu. Tapi kalau cinta itu ditanam pada lahan yang halal dan diridhoi ia akan menjadi berkah dan rahmat.
Cinta yang bersumber dari Allah akan abadi sampai akhir dunia ini. Sebab ia bersandar kepada yang maha abadi. Sedangkan cinta yang bersumber dari nafsu akan meluluhlantakkan manusia, sebab ia akan rusak dan hancur. Mereka hanya akan bertemu didunia, sedang di akherat mereka saling serang. "Coba baca tafsirnya di surat Al Hujurat," pinta Syeh.
Para murid puas mendengar penjelasan sang Syeh. Namun rasa penasaran masih terus bergelayutan. Mereka akan merenungi dulu, untuk ditanyakan hari berikutnya.
"Anak-anakku, siapa yang bisa menjawab apa bedanya cinta sejati dengan cinta nafsu? Coba dijawab dan terangkan," ujar Syeh mmebuka pengajian.
Masing-masing murid menjawab dengan pengetahuannya. Tapi tak satupun mengena, sebab wawasan dan pengalaman para murid masih di bawah. Syeh hanya tersenyum. "Ya, jawaban kalian semuanya benar tapi bukan itu yang aku maksudkan," ujar Syeh.
Lalu Syeh mulai mengupas. Cinta, kata Syeh, memang anugrah dari Allah yang dihunjamkan ke dada manusia. Kalau ia jatuh ke tanah yang bukan miliknya, akan berubah menjadi petaka karena dipandu oleh nafsu. Tapi kalau cinta itu ditanam pada lahan yang halal dan diridhoi ia akan menjadi berkah dan rahmat.
Cinta yang bersumber dari Allah akan abadi sampai akhir dunia ini. Sebab ia bersandar kepada yang maha abadi. Sedangkan cinta yang bersumber dari nafsu akan meluluhlantakkan manusia, sebab ia akan rusak dan hancur. Mereka hanya akan bertemu didunia, sedang di akherat mereka saling serang. "Coba baca tafsirnya di surat Al Hujurat," pinta Syeh.
Para murid puas mendengar penjelasan sang Syeh. Namun rasa penasaran masih terus bergelayutan. Mereka akan merenungi dulu, untuk ditanyakan hari berikutnya.
Selasa, 08 Desember 2009
Cinta dan Kesabaran
"Cinta tatkala diucapkan akan menuntut sebuah pengorbanan dan kesabaran. Coba bayangkan bagaimana para kekasih Allah diberikan cobaan dan ujian yang maha berat. Nabi Ibrahim harus menyembelih anaknya, Nabi Ayub dengan penyakit kudisnya dan kekasih Allah lainnya menderita sepanjang hayatnya. Semua kisah cinta kekasih Allah ini bagaikan parade penderitaan," ujar Syeh Abdul Muhyi, mengawali muzakarah pagi didepan murid-muridnya.
"Wahai tuan, mengapa cinta itu harus dibalas dengan ujian dan penderitaan," tanya seorang murid yang terpana mendengar penuturan Steh Abdul Muhyi. Guru sufi yang dikenal dengan sikap tawadhu ini tersenyum.
"Wahai muridku, ujian itu merupakan bagian dari laboratorium untuk melihat siapakah diantara mereka yang cintanya tulus. Begitu kita mengucapkan kata cinta, disanalah ujian datang bertubi-tubi. Maksudnya ini agar kita yakin dan teguh bahwa cinta kita memang hanya untuk-Nya. Maka para kekasih Allah rela menderita demi mendapatkan cinta-Nya,' tambah Syeh.
"Kalau begitu dimanakah letak kebahagiaan wahai guru?" timpal murid yang lain. Syeh Abdul Muhyi kembali menjawab. "Kebahagiaan itu merupakan buah dari sebuah perjalanan yang penuh penderitaan. Kekasih Allah dinyatakan sebagai kekasih setelah lulus menjalani penderitaan,".
"Bagaimana dengan cinta hamba kepada hamba wahai guru,"?, tanya sang murid yang masih penasaran. "Apakah sama penderitaannya?," tanyanya lagi.
Syeh kembali menjawab: "Cinta dengan sesama hamba pun akan mengalami terjalnya perjalanan. Cintamu kepada perempuan yang paling kau kasihi misalnya, tak akan pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Kalau ujian dan cobaan tiada, maka tidak ada yang namanya kebahagiaan,"
"Kalau begitu bagaimana Syeh kami mempertahankan cinta?" ujar muridnya lagi.
Syeh pun senyum. "Rawatlah cinta dengan menyandarkannya kepada yang maha memberi cinta. Jalani dengan penuh kesabaran sebab ia merupakan perekat yang akan membuat kehidupan demikian berarti. Kehidupan ada karena ada cinta," jawab Syeh.
Para murid nampaknya puas dengan jawaban Syeh Muhyi.Pengajian pun diakhiri dengan rasa penasaran.
"Wahai tuan, mengapa cinta itu harus dibalas dengan ujian dan penderitaan," tanya seorang murid yang terpana mendengar penuturan Steh Abdul Muhyi. Guru sufi yang dikenal dengan sikap tawadhu ini tersenyum.
"Wahai muridku, ujian itu merupakan bagian dari laboratorium untuk melihat siapakah diantara mereka yang cintanya tulus. Begitu kita mengucapkan kata cinta, disanalah ujian datang bertubi-tubi. Maksudnya ini agar kita yakin dan teguh bahwa cinta kita memang hanya untuk-Nya. Maka para kekasih Allah rela menderita demi mendapatkan cinta-Nya,' tambah Syeh.
"Kalau begitu dimanakah letak kebahagiaan wahai guru?" timpal murid yang lain. Syeh Abdul Muhyi kembali menjawab. "Kebahagiaan itu merupakan buah dari sebuah perjalanan yang penuh penderitaan. Kekasih Allah dinyatakan sebagai kekasih setelah lulus menjalani penderitaan,".
"Bagaimana dengan cinta hamba kepada hamba wahai guru,"?, tanya sang murid yang masih penasaran. "Apakah sama penderitaannya?," tanyanya lagi.
Syeh kembali menjawab: "Cinta dengan sesama hamba pun akan mengalami terjalnya perjalanan. Cintamu kepada perempuan yang paling kau kasihi misalnya, tak akan pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Kalau ujian dan cobaan tiada, maka tidak ada yang namanya kebahagiaan,"
"Kalau begitu bagaimana Syeh kami mempertahankan cinta?" ujar muridnya lagi.
Syeh pun senyum. "Rawatlah cinta dengan menyandarkannya kepada yang maha memberi cinta. Jalani dengan penuh kesabaran sebab ia merupakan perekat yang akan membuat kehidupan demikian berarti. Kehidupan ada karena ada cinta," jawab Syeh.
Para murid nampaknya puas dengan jawaban Syeh Muhyi.Pengajian pun diakhiri dengan rasa penasaran.
Selasa, 24 November 2009
Taat dan Sabar
"Ya Allah, aku sadar ketaatanku tidak bisa membeli surga-Mu, pun demikian dengan kemaksiatan sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Mu".
Siapakah yang harus ditaati setelah Allah dan Rosul-Nya? Pertanyaan ini sering bergelayutan dibenak setiap orang. Pertanyaan ini juga dirasakan oleh seorang ibu muda yang sukses dalam karir, sebut saja namanya Fatimah. Mengawali kehidupan dengan kesengsaraan dan penderitaan adalah hal biasa. Saking biasanya ia tak merasakan bahwa sebuah penderitaan bermakna derita, tapi derita adalah sebuah rasa manis kehidupan. Pun dengan masalah asmara, ia mendapatkan limpahan kasih sayang yang berlebih. Semua perjalanan hidupnya boleh dibilang mulus mencapai impian.
Namun perkembangan zaman terus berputar. Ada sisi perubahan yang tidak disadari dalam hidupnya. Si Fatimah yang dulu begitu taat dan tawadhu kepada suaminya, kini telah berubah menjadi seorang istri yang berani, mandiri dan sedikit "melawan" bila ia tergores sedikit perasaannya. Sasarannya adalah orang yang mencintai dia yakni suaminya.Ia makin pintar membela haknya seraya melupakan bahwa dia bisa mencapai tangga sukses dibelakangnya ada suami yang sepenuh hati memberikan segalanya.
Andaikan itu terjadi dalam hidup kita sehari-hari bagaimana sikap kita? Seperti pada mukaddimah diatas, siapakah yang harus ditaati setelah Allah dan Rosul-Nya? Bagi seorang istri, ketaatan kepada suami merupakan fase berikutnya setelah Allah dan Rosul-Nya. Selama suaminya menyuruh kepada jalan Allah dan tidak menyuruh maksiat, maka taat kepada suami adalah harga mati. Nabi Muhammad pernah mendapatkan pengaduan dari sahabat bahwa ada seorang istri yang mendahulukan taat kepada suami daripada orang tuanya. Sampai orang tuanya meninggal, si istri tersebut tidak tahu karena ia sedang menanti suaminya dari medan jihad.Nabi memberikan nilai tinggi kepada istri sahabatnya tersebut, dan pahala bagi orang tuanya.
Mengapa Nabi memberikan nilai tinggi? Sejatinya dalam taat itu ada kekuatan kesabaran, sebab tanpa sabar sangatlah berat untuk taat. Inilah kuncinya kenapa masalah taat menempati strata tinggi. Didalam taat ada pengorbanan yang tak ternilai harganya, sehingga mereka yang mampu menjalaninya akan menjadi orang yang beruntung.
Tapi lihatlah orang sekarang, taat adalah sesuatu yang berat dan menyesakkan dada. Kebebasan adalah keniscayaan itulah yang membuat seorang istri enggan memperlihatkan ketaatan. Kisah si Fatimah adalah fenomena umum sekarang, tapi itu bukanlah teladan yang baik untuk mereka yang menjadikan Islam sebagai tuntunan. Islam memberikan peluang yang sama antara suami dan istri untuk sama-sama memberikan yang terbaik dan membina hubungan harmonis dibawah naungan Islam. **
Siapakah yang harus ditaati setelah Allah dan Rosul-Nya? Pertanyaan ini sering bergelayutan dibenak setiap orang. Pertanyaan ini juga dirasakan oleh seorang ibu muda yang sukses dalam karir, sebut saja namanya Fatimah. Mengawali kehidupan dengan kesengsaraan dan penderitaan adalah hal biasa. Saking biasanya ia tak merasakan bahwa sebuah penderitaan bermakna derita, tapi derita adalah sebuah rasa manis kehidupan. Pun dengan masalah asmara, ia mendapatkan limpahan kasih sayang yang berlebih. Semua perjalanan hidupnya boleh dibilang mulus mencapai impian.
Namun perkembangan zaman terus berputar. Ada sisi perubahan yang tidak disadari dalam hidupnya. Si Fatimah yang dulu begitu taat dan tawadhu kepada suaminya, kini telah berubah menjadi seorang istri yang berani, mandiri dan sedikit "melawan" bila ia tergores sedikit perasaannya. Sasarannya adalah orang yang mencintai dia yakni suaminya.Ia makin pintar membela haknya seraya melupakan bahwa dia bisa mencapai tangga sukses dibelakangnya ada suami yang sepenuh hati memberikan segalanya.
Andaikan itu terjadi dalam hidup kita sehari-hari bagaimana sikap kita? Seperti pada mukaddimah diatas, siapakah yang harus ditaati setelah Allah dan Rosul-Nya? Bagi seorang istri, ketaatan kepada suami merupakan fase berikutnya setelah Allah dan Rosul-Nya. Selama suaminya menyuruh kepada jalan Allah dan tidak menyuruh maksiat, maka taat kepada suami adalah harga mati. Nabi Muhammad pernah mendapatkan pengaduan dari sahabat bahwa ada seorang istri yang mendahulukan taat kepada suami daripada orang tuanya. Sampai orang tuanya meninggal, si istri tersebut tidak tahu karena ia sedang menanti suaminya dari medan jihad.Nabi memberikan nilai tinggi kepada istri sahabatnya tersebut, dan pahala bagi orang tuanya.
Mengapa Nabi memberikan nilai tinggi? Sejatinya dalam taat itu ada kekuatan kesabaran, sebab tanpa sabar sangatlah berat untuk taat. Inilah kuncinya kenapa masalah taat menempati strata tinggi. Didalam taat ada pengorbanan yang tak ternilai harganya, sehingga mereka yang mampu menjalaninya akan menjadi orang yang beruntung.
Tapi lihatlah orang sekarang, taat adalah sesuatu yang berat dan menyesakkan dada. Kebebasan adalah keniscayaan itulah yang membuat seorang istri enggan memperlihatkan ketaatan. Kisah si Fatimah adalah fenomena umum sekarang, tapi itu bukanlah teladan yang baik untuk mereka yang menjadikan Islam sebagai tuntunan. Islam memberikan peluang yang sama antara suami dan istri untuk sama-sama memberikan yang terbaik dan membina hubungan harmonis dibawah naungan Islam. **
Langganan:
Postingan (Atom)