Jumat, 15 Mei 2009

Ditengah Derita, Awal Jadi Wartawan

Pada tahun 1983 kondisi rumah tangga pasangan Sumaji-Nurkhasiani berada dalam bahaya dan morat marit. Setidaknya itu kesan yang aku tangkap sebagai anak kecil yang baru kelas 2 SD. Sebagai anak kecil, aku bermimpi akan mendapatkan semuanya, terutama kasih sayang dari ibu tiri dan ayah. Namun impian itu harus buyar dan kandas. Sebab Sumaji, yang tak lain ayahku sendiri sejak menikah yang kedua kurang perhatian kepada anak yang dulu. Ia serahkan semua kepada mamak (ibu) tiri yang kala itu sangat tidak peduli. Setiap pagi mau berangkat ke sekolah, aku harus menyalakan tungku dan merebus air dan kadang membuat sarapan sendiri. Bajuku pun kusut dan lusuh. Setrika arang yang biasa dipakai menyetrika jarang dipakai untuk menyetrika bajuku. Sepatu juga jarang dibelikan, sehingga kadang aku sekolah dengan bersandal dan seringnya “nyeker” (tanpa alas kaki).
Bahkan sampai celana seragamku sobek dan rusak, mamak Nur, pun masih cuek. Sampai suatu ketika celana yang sobek itu dijahit oleh ibu Sujatman, yang tak lain ibunya Indrawati, teman sekelas. Pokoknya aku seperti anak yang tidak terurus, kurus dan kusut. Makan tidak teratur dan setiap sekolah tidak bisa jajan karena tidak diberi bekal uang jajan. Sudah segala dicueki, sepulang sekolah aku masih dapat tugas mencari kayu bakar. Setiap sore aku ke kebun mencari kayu bakar, begitu seterusnya sampai aku kelas 6 SD. Itupun kadang aku harus menerima hardikan, kemarahan dan kejengkelan. Mamak benar-benar menjadi bos. Itu terjadi di saat anak pertama Asnuri Yusuf masih bayi dan aku pun jadi jongosnya.
Perlakuan kasar dari Mamak Nur itu demikian menyayat dan membekas dalam hati. Dan lama-lama aku menyimpulkan bahwa sebenarnya Mamak tidak sayang kepadaku. Ya, ia tidak sayang sebab apapun yang dilakukannya selalu meneror dan menyakiti aku. Tidak ada niat dia memberikan pendidikan kepada anaknya. Itulah sebabnya aku akan memberikan pelajaran kelak kemudian hari, begitu suara hatiku. Aku sering menangis dan meratap, tapi tidak bisa mengadu ke ayah Sumaji sebab ia pasti tidak akan mendengar. Aku punya catatan buruk tentang ibu tiri, itu mengendap hingga aku memutuskan tidak mau diasuh lagi oleh Mamak Nur. Ditambah lagi adikku Hafiatus Sania pun harus merasakan perlakuan sama hingga ia memilih tidak sekolah. Dan terakhir adikku Nurkholis, ternyata tak beda jauh nasibnya dengan aku yang lebih dulu disakiti.
Tiada hari tanpa penderitaan. Maka untuk melepaskan kepenatan dan kejenuhan bersama mamak Nur, aku memilih berpisah. Daripada sengsara di negeri sendiri bersama ibu tiri, lebih baik sengsara bersama orang lain. Akhirnya setamat SD, aku memutuskan ngenger (ikut orang) di rumah Mbah H. Idris. Rupanya Allah mendengar doaku, aku akhirnya diterima sebagai anak asuh di Mbah Idris. Inilah momentum titik balik yang merubah semua jalan hidupku. Secara fisik, aku sebenarnya sangat lelah, sebab selama di Mbah Idris kerjaan rutinku adalah mengurus peternakan ayam yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Tapi itulah harga yang harus aku bayar demi bisa sekolah di MTs Sukoharjo. Disinilah aku dibuat sangat sibuk sekali tapi justru aku punya keleluasaan berimajinasi tentang masa depan. Di kandang ayam yang luas itu aku bisa membayangkan bakal jadi apa aku ini.
Salah satu bayangan cita-citaku kala itu adalah kelak aku akan jadi orang yang menguasai dunia. Dan guru bahasa Indonesiaku memberikan gambaran bahwa orang yang disebut raja dunia itu wartawan atau jurnalis. Mereka menguasai informasi maka mereka menggenggam dunia. Itulah pertama aku berani membangun kepercayaan diri bahwa nasibku barada ditanganku, sedang bapak dan ibu asuh hanya menghantarkan sampai ke pintu gerbang perubahan. Aku merasakan langsung, selama tiga tahun bersama bapak dan ibu asuh inilah aku mengalami banyak pengayaan keilmuan, karena di rumah bapak asuh ada koleksi ratusan buku dan kitab klasik. Setiap ada waktu senggang, habis mengaji Quran dan mejahadah (zikir bersama), aku membaca buku sampai tamat. Tanpa terasa semua buku sudah dibaca semuanya.
Dari kebiasaan banyak membaca, aku pun mulai mencoba menggapai asa dengan latihan menulis. Aku menggantung asa bahwa kelak aku akan menjadi penulis unggul seperti Buya Hamka dan Muhammad Natsir. Makanya aku selalu menyiapkan buku harian untuk menulis semua peristiwa untuk menjadi bahan inspirasi menulis. Kemudian semua tulisan di buku harian aku transfer idenya untuk mengembangkan tulisan baik opini, berita maupun feature. Tak sengaja akupun menerjuni dunia wartawan alias jurnalis. Inilah titik balik kehidupanku kelak.***

Anak Desa Jadi Wartawan

Kisah yang ditulis ini merupakan catatan sepenggal perjalanan wartawan senior di Ciamis, Ahmad Mukhlis,S.Ag. Publik selama ini mengenal dia sebagai jurnalis yang tajam penanya dan berani melawan arus kemapanan. Sosoknya yang tahan banting dan siap mengambil resiko membuatnya mudah dikenal berbagai kalangan. Pokoknya selama menekuni dunia jurnalistik, ia sudah kenyang dengan berbagai ancaman, teror dan bahkan pernah dilaporkan ke polisi. Kiprahnya telah menginspirasi orang-orang muda yang menerjunkan diri ke kancah pertarungan jurnalistik. Jam terbangnya sudah tinggi, tapi ia justru makin rendah hati. Kepada yang tua menghormati, kepada yang muda membimbing dan kepada yang sejajar ia merangkul.
Bahkan ia termasuk salah satu jurnalis yang multitalenta, setidaknya ia bisa memainkan berbagai jurus dalam waktu bersamaan. Malah ia dikenal manusia seribu wajah, diluar karir jurnalis yang identik dengan keahlian menulis, ia juga seorang dosen, aktifis, wiraswatawan, pekerja kreatif, ustad dan pelatih spiritual. Kemampuan ini didapatkan kebanyakan lewat otodidak, kecuali bidang keagamaan, ia dapatkan melalui pendidikan di pesantren dan sekolah keislaman. Ia punya daya juang dan dorongan jihad yang tinggi sehingga tidak pernah merasa lelah menjalani aktifitas apapun. Selamat menyimak.***
Pagi itu, tepatnya pada tahun 1970 embun pagi terasa dingin. Pepohonan nan rindang dan suara burung berkicau bersahutan menambah suasana pagi kian khas pedesaan. Desa Enggalrejo, yang terletak dipinggiran kota Kecamatan Sukoharjo itu memang pedesaan yang masih sunyi penduduknya. Hamparan padang ilalang dan pepohonan lainnya mendominasi lahan, sehingga deretan rumah penduduknya tidak kelihatan. Di sebuah gubuk yang dibangun di antara rindang pepohonan, hiduplah sepasang suami istri. Suami yang baru berusia 20 tahun itu disapa dengan panggilan Sumaji dan istrinya Sukarti. Sebagai pengantin baru, keduanya mengawali kehidupan dengan bercocok tanam dan kadang bekerja mengangkut padi dengan sepeda kumbang. Setahun menjalani rutinitas bertani dilalui dengan bahagia, karena pada tahun itu pasangan ini dikarunia anak perempuan yang lucu. Cantik dan menawan, kata orang desa. Maka lengkaplah kebahagiaan pesangan muda tersebut, sebab secara materi tidak kekurangan, sebab sang istri adalah anak saudagar kaya. Namun cobaan datang, bayi perempun itu dipanggil yang maha kuasa pada saat usia lucu-lucunya.
Dari sinilah pasangan muda tersebut mulai terguncang jiwanya. Mungkin tidak siap menerima cobaan, pasangan suami istri itu mulai kendor dalam bercocok tanam. Sumaji banting stir ke “manol” (ojek sepeda ontel kala itu) untuk mengankut berbagai hasil bumi. Dari usaha manol ini, ia mulai bisa menabung dan terus berdoa ingin punya anak lagi. Siang malam ia berdoa bersama istrinya agar diberikan anak lagi. Rupanya doa keduanya dikabulkan oleh Allah SWT. Sang istri hamil dan sembilan kemudian melahirkan anak laki-laki pada tanggal 10 Agustus 1973. Bayi mungil itu tampak lucu dan belimpah kasih sayang, karena semua anggota keluarga menyayangi bayi tersebut.
Seperti adat Jawa-Lampung, selama 7 malam bayi tersebut ditirakati dalam ritus muyen (begadang menjaga bayi ramai-ramai). Dalam ritus itu semua tetangga berdatangan, ada yang sekadar begadang, ada yang mengaji dan ada yang sekadar menikmati hidangan. Pusat perayaan jatuh pada hari ke tujuh dengan upacara barzanji (baca sholawat) dan cukuran rambut. Berbagai hidangan dan segala macam makanan khas desa disajikan. Tak lupa daging aqiqah disantap ramai-ramai. Semua ikut berbahagia menyambut kehadiran sang bayi. Wajah-wajah bahagia turut mendoakan sang bayi tersebut yang belakangan diberi nama Ahmad Mukhlis. Menurut bahasa Arab, kata Mukhlis berarti orang yang ikhlas. Sumaji, sebagai ayah berdoa semoga kelak anaknya menjadi orang yang benar-benar ikhlas.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan kemudian berganti tahun tak terasa bayi tersebut bertumbuh kembang hingga punya tiga adik, yakni Kasmiatun, Hafiatus Sania dan Nurkholis. Mungkin inilah puncak dari semua. Kehidupan indah yang dijalani pasangan Sumaji dan Sukarti ternyata mulai redup. Dengan beban empat anak rumah tangga mereka goyah. Pendapatan dari pekerjaan “manol” sudah tidak mencukupi. Dalam suasana kalut dan tak menentu ekonomi ini, Sumaji pindah menjadi tukang bangunan. Sejak itu, Sumaji sering merantau ke luar desa mencari pekerjaan membangun rumah. Ia mulai jarang pulang dan akhirnya jarang komunikasi karena zaman itu kendaraan masih susah.
Sang istri dengan empat anak kewalahan mengurusnya. Sementara suami bekerja di luar desa dan hanya pulang setelah dapat bayaran kerja. Begitu seterus sampai suatu ketika Sukarti sebagai istri menyerah mengurusi anak sendirian. Pertengkaran sudah tak terhindarkan lagi, sampai akhirnya berlanjut kepada perceraian, tepatnya tahun 1980-an. Ini titik balik yang merusak semua masa indah anak-anaknya. Empat anak dibagi dua, Ahmad Mukhlis dan Kasmiatun ikut neneknya serta Hafiatus Sania dan Nurkholis tetap bersama ibunya. Sementara Sumaji kembali berkelana dan menekuni dunia pertukangan. Dan pada tahun 1982, Sumaji tertambat hatinya dengan janda tanpa anak Nurkhasiani, keduanya pun menikah. Dari pernikahan kedua ini Sumaji dikaruniai enam anak, yakni Asnuri Yusuf, Marfuatin Muthoharoh, Nurul Maslikhah, M.Fajrun Najah Ahmadi, M. Fajrun Najah Ansori (kembar) dan yang bungsu M. Fajrul Fallah.
Pernikahan kedua Sumaji disangka solusi yang akan membawa bahagia. Ternyata sebaliknya, kesengsaraan demi kesengsaraan terus bertubi-tubi. Anak-anak bertambah sementara penghasilan terus merosot seiring dengan sepinya order pekerjaan bangunan. Badan mulai sakit-sakitan sehingga tidak produktif lagi. Tapi meski demikian, Sumaji pun mengalami banyak perubahan, setidaknya uang selalu ada hanya salah manajemen. Akibatnya berapapun uang yang diterima selalu habis untuk konsumsi tidak ada yang digunakan untuk investasi usaha. Maka bisa ditebak, anak-anaklah yang jadi korban. Biaya sekolah tidak terbayar sebab semua habis tak bersisa. ***(Bersambung Coy)

Sabtu, 09 Mei 2009

Siapa Aku:Renungan Seorang Wartawan

Dalam pepatah Arab seorang filosof berkata” “Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Pepatah ini mengandung makna sebelum manusia ma’rifatullah terlebih dahulu harus ma’rifatunnafsi. Ma’rifatunnafsi adalah sebuah proses mengenal diri atau mengenal sang aku. Sejak pertama manusia diciptakan ia sudah mengalami problem dengan sang aku. Minimal untuk mengindentifikasi aku manusia menggunakan banyak parameter dan persepsi diri. Dan yang kemudian diaktualkan sebagai aku kadang bukan benar-benar aku seperti yang dikehendaki sang pencipta. Tapi aku ego yang merasa serba bisa dan serba berkuasa, sehingga aku semacam ini gagal melakukan ma’riftullah.

Untuk mendapatkan gambaran aku yang sebenarnya aku pun melakukan renungan soal anatomi tubuhku dan jiwaku yang didalamnya ada kehendak. Ya kemudian aku menarik benang merah bahwa sebutan aku adalah sebuah sebutan tentang individu yang melambangkan keseluruhan unsur individu yang meliputi jiwa dan raganya. Namun demikian hingga kini tetaplah misteri eksistensi aku dalam konteks kesemestaan ini. Begitu juga dalam konteks manusia sendiri aku seringkali menjadi dilema. Yang paling sederhana adalah mempertanyakan jati diri aku dan fungsiku di dunia. Pastilah Tuhan ciptakan manusia ada tujuan dan fungsi yang diemban.

Sebagaimana manusia aku selalu bertanya siapakah aku dan untuk apa aku diciptakan. Pertanyaan ini seringkali sulit dijawab tanpa melakukan perenungan mendalam terhadap zat yang maha segalanya. Sungguh setiap aku bertanya siapa aku yang muncul adalah persepsi dan gambaran pribadiku yang mungkin bukan aku yang sebenarnya. Aku selalu menampilkan topeng wajahku sebab aku memang tak mengenal diriku. Ini mungkin hasil dari konstruksi persepsi yang diberikan kepadaku dari dunia luar. Akupun melakukan pengembaraan ke dalam diri untuk mengenali apa sebenarnya hikmah penciptaan diriku. Aku mulai mencari jawaban atas pertanyaan untuk apa aku diciptakan oleh yang maha kuasa.

Kemudian aku cari jawabannya lewat wahyu. Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah,”. Dalam ayat yang lain Allah menjawab pertanyaan manusia untuk apa diciptakan dengan firman: “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi”. Kata khalifah dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai wakil, pengelola, pemimpin, dan pengayom. Ya secara tersirat aku diciptakan tentu saja tidak jauh dari makna tersebut. Hal itu diperkuat lagi oleh hadits Nabi Muhammad : “Sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu di akherat.”

Dengan demikian sejak di alam azali aku sudah diberi amanah oleh sang pencipta agar menjadi khalifah di semua lini kehidupan. Aku memang diberi kebebasan memilih oleh sang Pencipta, tapi tetap saja melekat amanah sebagai wakil Tuhan yang harus mengelola alam dan menciptakan kedamaian. Dalam tugas itulah sekali waktu aku harus menjadi seorang negosiator, provokator, dai, leader, dan sekali waktu menjadi orang biasa. Peran ini kadang berjalan bersamaan sesuai dengan ruang dan waktu. Ya aku demikian sempurna diciptakan Allah. Dari sinilah aku mengenal Allah (Ma’rifatullah) sebagai sang maha pencipta.

Aku akhirnya menjadi manusia seribu wajah karena demikian banyak peran dan fungsi atas keberadaanku di dunia. Namun diatas segalanya, aku ternyata hanyalah seorang hamba yang wajib mengabdikan seluruh hidup dan matiku hanya untuk Allah. Statemen ini tentu saja sulit aku deklarasikan jika aku tak mengenal diri sendiri sebagai pintu mengenal Allah. ***

Wartawan Juga Manusia

Berapakah gaji standar wartawan yang berstatus pekerja tetap? Menurut penelitian, gaji ideal yang bisa mencukupi kebutuhan minimum wartawan Rp 3,5 juta. Tapi kenyataannya gaji wartawan yang bekerja di media massa besar masih dibawah itu. Ini sebenarnya tidak sebanding dengan resiko pekerjaan yang membahayakan dan menghabiskan waktu. Meski demikian masih banyak wartawan yang menerima gaji apa adanya, sebab masih banyak peluang mencari tambahan pendapatan. Caranya tentu saja dengan menjual nasib agar pihak ketiga membantunya. Ini sudah bukan rahasia lagi, hampir sebagian besar wartawan menjalankan pekerjaan ganda dalam satu waktu. Ini masih bisa dimengerti oleh logika ekonomi dan sosial.

Yang parah dan sulit dicerna akal adalah eksploitasi wartawan. Ada ribuan wartawan yang statusnya bukan karyawan, tapi diberi kartu pers. Ia ditugasi bekerja tapi tidak pernah dibayar apalagi digaji tetap. Mereka dibiarkan mencari penghidupan sendiri sembari setor ke perusahaan penerbitan koran. Sepintas ini tidak manusiawi, sebab ada unsur eksploitasi. Namun kadang masuk akal juga kalau melihat yang direkrut jadi wartawan jenis ini adalah mereka yang standar kompetensi dibawah standar. Kemampuan mereka juga sudah sulit dinaikan karena terbentur dengan segala keterbatasan.

Saya memberikan sebutan kepada pekerja lepas ini sebagai “wartawan wirausaha” yang hidup dengan menjual berita kepada narasumber dan pihak terkait. Dilapangan terbukti daya tahan survival-nya wartawan jenis ini memang luar biasa. Meski tak dipungkiri ada juga cerita miring dan negatif yang dialamatkan kepada mereka, diantaranya rendahnya karya jurnalistik mereka. Tapi banyak juga sisi positif yang bisa dipetik, yakni bahwa wartawan wirausaha bisa mencetak uang untuk kelangsungan hidupnya. Setidaknya mereka jadi kreatif menciptakan peluang baru untuk kiprahnya.

Terlepas dari itu semuanya, ada benang merah yang bisa ditarik yakni adanya kesenjangan ekonomi yang demikian mencolok antar wartawan. Yang bergaji tetap setiap bulan aman, kalau sakit ada asurasni kesehatan, kalau celaka ada asuransi kecelakaan dan kalau mau pensiun ada tunjangan hari tua. Sebaliknya, wartawan wirausaha, kalau sakit, celaka dan menjadi tua semua ditanggung sendiri. Disinilah seorang wartawan dituntut punya pandangan jauh ke depan agar tidak masuk jebakan. Ya, wartawan juga manusia, kadang sakit kadang sehat, kadang tidak punya uang tapi sekali waktu juga banyak uang.

Alhamdulillah, dua suasana yang kontradiktif itu saya sudah mengalami. Saat bekerja di surat kabar lokal di Priangan Timur, pertama menjadi tenaga lepas tanpa honor, kemudian dapat honor dasar dan tulisan kemudian bergaji tetap. Semua saya syukuri sebagai anugrah, namun nikmat itu kemudian saya tinggalkan dan beralih frekwensi ke jalur wirausahawan jurnalistik. Hasilnya ternyata mengejutkan, dijalur lepas banyak kemungkinan yang sulit terduga. Maka hanya kreatifitaslah yang menyelamatkan orang-orang wirausaha. ***

Antara Idealisme dan Kebutuhan

Impian apakah yang tertinggi dalam hidup seorang wartawan ? Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak saya tatkala melakukan muhasabah. Bayangkan, semua orang yang berjubah wartawan telah menjual semua yang ada dalam tubuhnya. Mengapa? Karena oreintasi pekerjaan diarahkan untuk mendapatkan imbalan materi, yang pada zaman ini menjadi sumber kebahagiaan. Wartawan yang bergaji maupun wirausahawan berita sama-sama menggadaikan idealismenya untuk meraih kebahagiaan materi. Maka sudah dipastikan mereka yang menggendong idealisme, semangat jihad dan perbuatan mulia akan mati langkah sebab ia diasingkan oleh sesama.
Mungkin saya adalah salah satu orang yang harus menanggung beban akibat idealisme. Setidaknya idealisme untuk tetap menjaga muruah (marwah), martabat dan harga diri dalam mencari sumber pendapatan. Idealisme yang saya tegakkan adalah bagaimana agar setiap rezeki yang saya terima itu tetap terbebas dari syubhat (samar-samar),halal, dan diijabqobuli dengan tetesan keringat. Ini tentu saja sangat berat sekali, sebab peluang perkeliruan di dunia wartawan sangat terbuka. Setiap orang yang bermasalah dan berpotensi menjadi obyek pemberitaan baik positif atau negatif berpeluang menghasilkan uang. Selama semua sesuai dengan prosedur, memang tidak masalah.
Namun ketika yang akan diekspos berita negatif, pastilah narasumber akan melakukan penyuapan, rayuan, dan iming-iming imbalan agar berita negatif tidak ditayangkan. Jumlah uangnya menggiurkan untuk kasus semacam ini, maka banyak sang wartawan yang akhirnya takluk dan mengibarkan bendera putih. Dan ketika wartawan tidak mau menerima pemberian suap, berikutnya narasumber akan melakukan intimidasi dan kekerasn fisik. Ini biasanya dialami wartawan idealis yang tidak mempan disuap. Namun sekarang posisi sudah berbalik, wartawan super pragmatis memanfaatkan peluang ini untuk mendapatkan uang. Mereka mengancam, menakut-nakuti dan mengintimidasi narasumber agar disuapi uang.
Dalam situasi yang demikian kacau dan tak beretika itu, saya sendirian berjuang mempertahankan prinsip bahwa siapapun dia,- baik atau buruk orangnya-tidak pernah saya persoalkan selama ia bisa diajak sharing bisnis profesional. Artinya orang tersebut mau bekerjasama saling menguntungkan secara bisnis dan halal secara syariah Islam. Sebab ini murni hubungan muamalah, dengan begitu semua sama-sama enak dan nyaman. Sayangnya, mempertahankan prinsip itupun ternyata tidak sepenuhnya dianggap benar oleh relasi dan masyarakat pembaca media cetak. Setidaknya saya sendiri merasa sunyi dan susah mendapatkan peluang kerjasama. Mengapa? Inilah pertanyaan retoris saya.
Mungkin saja ini imbalan kehidupan untuk mendewasakan diri karena telah gila membawa idealisme. Tapi tidak apalah, semua saya terima dengan lapang dada dan tetap bahagia, sebab ini karunia dan tarbiyah dari Allah agar tetap waspada. Lebih banyak nikmat yang saya terima dibandinkan dengan kesusahan yang menimpa, setidaknya dengan menjalani profesi wartawan secara benar dan bersih mendatangkan banyak saudara dan persahabatan. Inilah harta satu-satunya seorang wartawan. Dan sudah dari sananya, wartawan itu dalam strata sosial kurang mendapatkan tempat, kecuali wartawan yang sudah menjadi bos, pemegang saham media cetak dan pimpinan tertinggi. Ya, wartawan liputan tak ubahnya prajurit, kalau berhasil tidak dipuji, kalau gagal dicaci maki dan kalau mati tidak dicari. ***

Rabu, 06 Mei 2009

Cara Gila Jadi Wartawan !

Kalau anda masih waras, yakinlah anda tidak akan mau jadi wartawan. Mengapa? Saat ini citra wartawan sedang kusut dan cemar, karena profesi yang mulia ini dikotori oleh nafsu serakah dan tamak para pelakunya. Semua orang yang mengaku wartawan, seolah berlomba dalam keserakahan baik dalam urusan dunia maupun kekuasaan lahan. Namun sayang, mereka yang adu otot dan kekuatan itu tidak memiliki kompetensi memadai. Sehingga bukannya dihargai oleh pihak lain, melainkan justru dilecehkan, direndahkan dengan suap receh dan tidak ada marwah dalam diri wartawan. Anehnya banyak wartawan yang nyaman-nyaman saja dikungkung oleh suasana yang merendahkan martabat ini.
Maka tak ada jalan lain, kalau anda ingin jadi wartawan harus gila dulu biar kebal disakiti dan dizalimi tapi tetap punya harga diri. Bagaimana caranya menjadi gila? Gilanya seorang wartawan adalah memainkan kombinasi jurus ketajaman pena dan keahlian membaca tanda-tanda zaman. Kemampuan membaca situasi dalam setiap zaman menjadi mutlak sebab setiap fase kehidupan selalu menyertakan tantangan yang berbeda. Ketajaman pena tidak akan merubah keadaan manakala tidak tepat dengan momentum zaman yang sedang dilalui.
Kehebatan seorang wartawan muncul sesuai dengan tantangan zamannnya, karena itu musim keemasan setiap orang selalu berbeda. Pada saat masyarakat muak dan kesal dengan prilaku pejabat pemerintahan, maka tulisan yang berani dan konfrontatif dengan kebijakan pemerintah akan diapresiasi publik. Wartawan akan menjadi pahlawan dimata masyarakat dan dianggap musuh oleh orang pemerintahan. Sebaliknya pada saat hubungan masyarakat dengan pemerintah harmonis, wartawan yang menulis kebobrokan pemerintah akan dimusuhi masyarakat dan kroni penguasa.
Pada posisi interaksi semacam inilah wartawan harus pandai menempatkan diri. Kalau wartawan pragmatis dan haus materi, ia akan mengekor, menjilat dan melacurkan harga diri kepada penguasa untuk mendapatkan imbal jasa. Ia berada diketiak penguasa menjadi anjing penjaga yang setia. Pola ini yang sekarang banyak dianut oleh “wartawan instan” karena motivasi bekerjanya memang demi perut sendiri. Maka tidak heran jika Dewan Pers dalam penelitiannya menemukan data bahwa 70 persen wartawan yang sekarang beroperasi tidak layak jadi wartawan beneran karena kualifikasi dan kompetensinya dibawah standar. Bagaimana dengan wartawan karir yang menjaga integritas kerja dan idealismenya? Jenis wartawan ini cenderung dijauhi meski karya jurnalistiknya berkualitas dan mencerahkan. Mereka yang punya idealisme sekarang dimarjinalkan dari pergaulan, sebab dianggap makhluk aneh.(Bersambung coy…?)***

Sabtu, 02 Mei 2009

Musim Booming Wartawan

Masa keemasan wartawan dalam penghidupan adalah ketika Orde Baru berkuasa. Kebebasan pers memang dibatasi namun wartawan menikmati kebebasan finansial, sebab ada jaminan kesejahteraan. Yang diuntungkan terutama wartawan pro pemerintah. Sebaliknya sebagian wartawan yang kritis dan berpuasa saat Orde Baru, menyambut Orde Reformasi dengan berbunga-bunga karena pada saat itu lahir UU Pers No.40/1999. Undang-undang ini menjamin kebebasan setiap warga negara mendirikan penerbitan pers. Inilah awal “booming” media massa dan wartawan, sebab undang-undang ini dianggap sebagai peluang pekerjaan dengan jaminan kebebasan pers.
Momentum “booming” ini telah melahirkan ratusan penerbitan media massa yang melibatkan ribuan wartawan. Maka tidak mengherankan kalau belakangan banyak orang tiba-tiba menjadi wartawan tanpa standar kompetensi yang memadai. Seolah semua serba bebas, sehingga banyak orang eksodus ke jalur wartawan. Maka bila sekarang ini ada ribuan wartawan yang berkeliaran, bisa dipastikan setengahnya adalah wartawan yang terjun bebas. Wartawan jenis inilah yang kini menguasai dunia persilatan, mereka menggunakan baju wartawan, tapi jiwa dan habitatnya bukan wartawan. Karena itu, pasar dunia pers semakin tidak kompetitif karena diisi oleh mereka yang bukan pemain sejati.
Sekali lagi tumbuh suburnya wartawan terjun bebas itu bukan semata-mata karena keterdesakan sebuah kebutuhan. Namun akibat iklim dan regulasi pemerintah yang demikian longgar. Selain itu, prilaku masyarakat dan pemerintah yang semakin bebas melakukan pelanggaran aturan juga mendorong suburnya wartawan terjun bebas. Maraknya kasus pemerasan oleh wartawan, adalah bukti bahwa ada sebagian dari anggota masyarakat yang terlibat dalam kesalahan. Sebab ternyata berdasarkan fakta, wartawan tidak akan pernah bisa memeras kalau seseorang itu tidak punya kesalahan. Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh mereka yang senang memamerkan kekuatan seorang wartawan.
Mengapa situasi semacam ini bisa terjadi ? Karena booming wartawan tidak diikuti dengan penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai. Banyak penerbitan media massa yang mengekploitasi SDM wartawan untuk keuntungan, Namun perusahaan penerbitan tersebut tidak memberikan imbal balik yang sesuai standar kebutuhan minimal. Hampir sebagian besar wartawan kinis statusnya freelance. Mereka dipekerjakan tanpa ikatan kekaryawanan, sehingga wartawan akhirnya mengandalkan jurus masing-masing untuk mempertahankan hidupnya. Salah satu jurus yang bermodal kecil adalah dengan “mencari mangsa” yang diperkirakan bakal menghasilkan uang. Inilah yang dilakukan wartawan yang skill bisnisnya rendah. Tapi sekali lagi, wartawan tidak hidup diruang hampa, ia tumbuh dan berkembang bersama lingkungannya. Kalau lingkungannya baik ya baik pula prilakunya. Sebaliknya kalau setiap hari wartawan melihat keburukan ya ia bisa menjadi wartawan yang buruk. Interaksi ini akan

Akhirnya, penulis menyadari prilaku negatif mereka yang mengaku wartawan itu dipengaruhi banyak faktor. Yang paling utama adalah masalah ekonomi atau kesejahteraan. Hubungan kerja wartawan dengan perusahaan bisnis media massa selama ini tidak sepenuhnya mengacu kepada undang-undang tenaga kerja, sebab dalam definisi profesi seorang wartawan itu bukan buruh tapi seorang profesional. Ia sama dengan dosen, pengacara dan pekerja profesional lainnya. Ia mendapatkan imbalan sesuai dengan jasa yang diberikan kepada perusahaan dan masyarakat. Makanya bagi wartawan yang bekerja di perusahaan media besar, otomatis pendapatan dan kesejahteraannya diatas rata-rata, sebab kompetensi dan kualifikasinya tinggi.
Sebaliknya wartawan yang bekerja di perusahaan media dengan omzet kecil, kesejahteraannya juga rendah. Dan biasanya perusahaan sejenis ini memang tidak mempersyaratkan kualifikasi yang ketat dan kompetensi yang tinggi. Maka produk dan standar pekerjaannnya juga dibawah media beroplah besar. Disinilah problem mulai muncul dan bertabrakan tatkala wartawan harus mengaktualisasikan dirinya dalam pergaulan sosial. Ada yang tampil percaya diri dan ada juga yang harus tampil seadanya sesuai dengan kondisi masing-masing. Diakui atau tidak, kesenjangan ekonomi antar wartawan pun demikian mencolok yang akhirnya memicu persaingan yang tidak sehat. Situasi ini memang tidak mengenakkan, tapi semua mengalir sesuai dengan irama. Inilah sekilas potret kecil dunia wartawan dari masa ke masa.
Pada akhirnya semua kembali kepada diri masing-masing. Yang jelas menjadi wartawan semestinya adalah panggilan jiwa agar profesi ini tidak disalahgunakan untuk tujuan yang merusak tatanan. Sebab dalam profesi ini ada kemuliaan yang menentukan martabat seseorang dalam menjalani karir seorang wartawan.***