Jumat, 28 Agustus 2009
Susahnya Mengingat-Mu
Ya Allah, saat Kau beri aku nikmat, betapa beratnya aku mengingat-Mu. Kini aku dalam kesusahan baru teringat pada-Mu. Sebenarnya aku malu karena hanya mengaduh kala susah. Tapi itulah kelemahanku, maka jangan Kau hukum aku Ya Robbi, sebab aku menanti kehadiran Mu dalam Qolbu. Aku tak bisa jauh dari Mu sebab Engkau yang menggenggam hidup dan matinya makhluk. Dalam ketidakberdayaan ini aku selalu memohon perlindungan, sebab tanpa perlindungan Mu apalah dayaku. Inilah yang bisa aku minta di bulan yang penuh berkah ini. Amin
Kamis, 27 Agustus 2009
Menanti Hidayah
Kegelapan kian mencekam. Tak ada cahaya yang menerangi. Semua menjadi gelap. Karena itu, seberkas cahaya sangatlah berarti bagi mereka yang berada di kegelapan. Hati yang telah bercahaya akan mengusir sang gelap. Inilah orang yang akan tercerahkan mata batinnya.***
Minggu, 23 Agustus 2009
Ramadhan Damai
Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh berkah. Karena itu, sudah saatnya kita mengisi Ramadhan dengan amalan ibadah. Setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya, maka akan sangat merugi jika kita lewatkan kesempatan ini. Tak ada waktu lagi kita bertengkar, sebab Ramadhan hanya sebulan. Maka mari kita isi Ramadhan dengan damai, agar berkah dari langit diturunkan. Selamat menunaikan ibadah puasa.!
Selasa, 11 Agustus 2009
Rintihan Sunyi
Mereka yang terperangkap dalam kegelapan kini sedang menggapai cahaya. Tapi sayang mereka yang selalu dalam cahaya mencampakkannya. Orang gelap seolah begitu buruk sehingga mereka layak diawasi dan dijauhi. Mereka yang tercerahkan oleh cahaya kemudian begitu angkuh dan sombong, merasa paling bersih dan seolah surga sudah ditangan. Itulah sebabnya kenapa para pengawal cahaya terang-yang seharusnya memperjuangkan kebaikan- kini berubah menjadi manusia suci. Setiap kata-katanya harus jadi sabda, perbuatannya harus jadi firman. Mereka kemudian menjadi malaikat, malah dalam derajat tertentu mirip Tuhan. Maka akhirnya kebenaran ditafsirkan sepihak, tidak memberikan kesempatan kepada pihak liyan berargumentasi. Inilah manusia-manusia suci yang kini bukannya menebar kebaikan, tapi malah mencetak penjahat-penjahat baru. Kejahatan demi kejahatan terus terulang dan bukannya berkurang. Ini semua bukan salah sang penjahat yang disimbolkan dunia gelap, tapi mereka yang berada dalam cahaya tak meraihnya. Manusia suci berada di menara gading dan tak mau menjangkau bumi.
Ya Allah, Engkau yang maha membolak balikkan hati manusia. Jadikan aku salah satu hamba-Mu yang selalu menebar kebaikan. Namun aku sadar, tidak semua niat baik itu berbuah kebaikan. Maka bimbinglah aku menempuh perjalanan ini agar aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Amin.***
Ya Allah, Engkau yang maha membolak balikkan hati manusia. Jadikan aku salah satu hamba-Mu yang selalu menebar kebaikan. Namun aku sadar, tidak semua niat baik itu berbuah kebaikan. Maka bimbinglah aku menempuh perjalanan ini agar aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Amin.***
Senin, 10 Agustus 2009
Doa-Doaku
Ya Allah, andaikan semua doa semua manusia engkau kabulkan, niscaya hancurlah dunia ini. Tapi sebagai hamba, aku akan selalu berdoa untuk kebaikan diriku. Namun tentu saja ini akan saling bertentangan dengan orang lain. Sebab,orang pun sama punya permintaan yang berbeda. Kalau polisi anti teroris akan berdoa minta dilenyapkan sang teroris. Sebaliknya, kalau teroris pun akan memohon kepada Mu keselamatan dan kesejahteraan. Mereka pun punya keyakinan yang sama bahwa Engkau pasti memberikan rahmat dan ridho. Amin.***
Minggu, 09 Agustus 2009
Sinetron Penembakan Teroris
Densus 88 Anti Teror tampak sudah frustrasi karena perburuannya menemukan Noordin M Top tak kunjung membuahkan hasil. Akhirnya dengan telanjang mata membuat sinetron seolah-olah polisi sudah berhasil menembak mati Noordin. Bernakah fakta ini ? Kalau dilihat dari logika jihad cara polisi ini justru bertentangan dengan akidah para mujahid bom bunuh diri. Kalau polisi densus takut mati itu wajar, sebab ada banyak kemewahan dan fasilitas yang dinikmati oleh mereka. Tapi bagi teroris kematian adalah sesuatu yang indah. Mereka ingin mengejar mati syahid, sehingga kalaupun ada penangkapan dan penggerebekan mereka tidak akan lari. Kemanapun mereka pergi, dalam tubuhnya selalu tersimpan bom yang sewaktu-waktu akan meledak. Lebih baik mati syahid daripada hidup dengan kehinaan karena menjadi kaki tangan kaum kafir Amerika. Itulah motto para mujahid bom. Jadi cara polisi menangkap yang mengesankan Noordin lemah dan tak berdaya adalah sebuah kesalahan logika. Noordin sebagai pemikir dan otak jihad bom tentu tidak akan pernah sendirian. Ia akan dikawal dan dilindungi pengikut setianya. Maka bisa dipastikan penembakan di Temanggung itu hanya sinetron,dan Noordin M Top sekarang sedang tersenyum kecut melihat kejenakaan polisi. "Gue kerjain lho," ujar Noordin dalam hati.Kecanggihan senjata Densus 88 yang semuanya dibiayai Amerika ternyata tak berguna.**
Rabu, 05 Agustus 2009
Menggugat Konsep Solehah
Banyak orang terutama laki-laki yang kurang memahami bahwa pasangan hidupnya itu akan menjadi apa sangat tergantung bagaimana sang lelaki memperlakukannya. Setidaknya itulah kesimpulan dari banyak kasus yang terjadi belakangan ini. Kebencian, kekecewaan, kecemburuan dan semua yang berbau negatif soal pasangan dimulai dari bagaimana sang nakhoda menjalankan biduk rumah tangganya. Makanya, syarat utama sang lelaki yang akan menjadi pemimpin di dalam rumah tangga adalah bagaimana ia bisa memainkan seni kepemimpinan yang indah agar tercipta keharmonisan. Masalahnya sekarang, seni kepemimpinan itu sulit diterapkan karena posisi lelaki dan perempuan saat ini setara dalam kedudukannya di rumah tangga. Bagaimana menyikapi keadaan ini ? Pertanyaan ini tentu saja sangat sulit dijawab.
Tapi sekadar berbagi pengalaman bolehlah. Kita ambil cuplikan kisah perjalanan seorang lelaki asal seberang yang biasa disapa Abang. Sang lelaki yang dikenal garang, angkuh dan sulit gaul ini memang pembawaannya temperamental. Semua orang sungkan dan segan untuk bermusuhan dengannya. Tapi dibalik itu semua, ia sebenarnya punya hati lembut setidaknya kalau melihat penderitaan sesama. Dengan pasangannya pun cenderung romantis dan memanjakan. Dalam memimpin biduk rumah tangganya ia menggabungkan seni keras dan kelembutan sekaligus. Sehingga pasangannya relatif nyaman dan aman, meski kadang tak tahan dengan kekerasan prinsipnya. Apa hasil yang dicapai sang Abang dengan seni memimpinnya itu ?
Pasangan hidup si Abang secara kasat mata memang nyaman dan bahagia. Namun lagi-lagi pasangannya sesekali memantik konflik karena kesetaraan jender tersebut. Definisi istri yang soleha pun menjadi kian kabur. Si Abang menjadi kehilangan pegangan tatkala sang istri mulai melancarkan serangan. Kepemimpinannya digugat sampai ke titik nadir. Apa yang bisa dilakukan si Abang? Ia baru sadar, ke-Solehan itu bukan paket dari Tuhan, melainkan hasil pendidikan dan perjalanan manusia dalam menemukan nilai universal yang difirmankan Tuhan. Menjadi solehah ternyata membutuhkan sejumlah pengorbanan, waktu, kesabaran dan keteladanan. Seolehah dengan demikian bukan sekadar nilai pribadi tapi nilai bersama karena ia hanya bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung.
Si Abang itu bisa jadi Anda, atau mungkin Aku sendiri. Andaikan si Abang itu aku, yang pertama aku sadari adalah ternyata sekarang yang namanya lelaki dalam rumah tangga bukan satu-satunya sumber wibawa, fatwa dan keteladanan. Dalam konsepsi Al-Quran, lelaki itu pemimpin (Qowam) terhadap kaum perempuan, dalam realita lelaki hari ini tak lebih sekadar pelengkap. Kondisi ini diperparah oleh kualifikasi Qowam yang masih belum jelas rinciannya. Ini menambah masalah jadi rumit terutama ketika berhadapan dengan perempuan yang karena kekuatan jendernya melakukan perlawanan terhadap dominasi lelaki. Konsepsi solehah selama ini dipersepsikan dengan prilaku yang anggun, taat kepada suami, mau mendengar nasihat dan indah dipandang oleh lelaki yang punya kualitas Qowam. Ini semua hilang begitu kesetaraan dipahami dalam konteks melawan kepemimpinan lelaki yang menjadi pasangannya. Padahal dalam Islam, suami yang boleh tidak ditaati itu bilamana ia mengajak ke arah maksiat dan menentang Allah.
Entahlah zaman sedang berbalik. Kalau ada orang lelaki yang hidupnya benar, sesuai dengan syariat Allah dijadikan musuh bersama. Tapi kalau ia salah, menuruti jalan syetan asal sesuai dengan pemikiran orang umum diberi pernghargaan. Kalau ada suami yang taat beragama, istrinya dihasut dengan pemikiran anti agama. Ajaran Islam dihujat dan dimaki agar pasangan suami istri ragu dengan agamanya. Begitu seterusnya hingga rusaklah bangunan sakral rumah tangga Islami. Para muslimah yang solehah, taat kepada suami ditakut-takuti dengan dampak poligami yang menyeramkan. Padahal justru yang menyeramkan adalah dampak zina bebas yang telah melahirkan penyakit HIV/AIDS.
Muslimah solehah saat ini akan diam seribu bahasa melihat maraknya seks bebas dimana-mana. Seolah –olah perbuatan seks bebas itu tidak berdampak pada murka Allah. Padahal dalam budaya seks bebas itu ada anak-anak kita yang harus dilindungi. Ada masyarakat kita yang harus dijauhkan dari prilaku yang merusak tersebut. Tapi coba kita lemparkan wacana poligami, muslimah solehah versi modern akan berteriak lantang menentang keras seraya menyebutkan dampaknya. Ribuan buku ditulis yang semuanya menyudutkan poligami. Jumlah bukunya jauh lebih banyak daripada buku yang membahas dalam seks bebas.
Makanya, menjadi solehah pada abad pertengahan tercermin dalam kita “Ngudulujain” yang menceritakan bagaimana suami istri saling mencintai dibawah naungan ridho Allah. Namun solehah saat ini dialihkan kepada bagaimana pasangan suami istri saling memusuhi dibawah komando Syetan. Jadi boro-boro mengejar keluarga sakinah, mawadah dan rahmah, sekadar hidup nyaman pun sulit. Kita dibuat saling curiga dan tidak percaya dengan pasangan. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertanggungjawab? ***
Tapi sekadar berbagi pengalaman bolehlah. Kita ambil cuplikan kisah perjalanan seorang lelaki asal seberang yang biasa disapa Abang. Sang lelaki yang dikenal garang, angkuh dan sulit gaul ini memang pembawaannya temperamental. Semua orang sungkan dan segan untuk bermusuhan dengannya. Tapi dibalik itu semua, ia sebenarnya punya hati lembut setidaknya kalau melihat penderitaan sesama. Dengan pasangannya pun cenderung romantis dan memanjakan. Dalam memimpin biduk rumah tangganya ia menggabungkan seni keras dan kelembutan sekaligus. Sehingga pasangannya relatif nyaman dan aman, meski kadang tak tahan dengan kekerasan prinsipnya. Apa hasil yang dicapai sang Abang dengan seni memimpinnya itu ?
Pasangan hidup si Abang secara kasat mata memang nyaman dan bahagia. Namun lagi-lagi pasangannya sesekali memantik konflik karena kesetaraan jender tersebut. Definisi istri yang soleha pun menjadi kian kabur. Si Abang menjadi kehilangan pegangan tatkala sang istri mulai melancarkan serangan. Kepemimpinannya digugat sampai ke titik nadir. Apa yang bisa dilakukan si Abang? Ia baru sadar, ke-Solehan itu bukan paket dari Tuhan, melainkan hasil pendidikan dan perjalanan manusia dalam menemukan nilai universal yang difirmankan Tuhan. Menjadi solehah ternyata membutuhkan sejumlah pengorbanan, waktu, kesabaran dan keteladanan. Seolehah dengan demikian bukan sekadar nilai pribadi tapi nilai bersama karena ia hanya bisa tumbuh dalam lingkungan yang mendukung.
Si Abang itu bisa jadi Anda, atau mungkin Aku sendiri. Andaikan si Abang itu aku, yang pertama aku sadari adalah ternyata sekarang yang namanya lelaki dalam rumah tangga bukan satu-satunya sumber wibawa, fatwa dan keteladanan. Dalam konsepsi Al-Quran, lelaki itu pemimpin (Qowam) terhadap kaum perempuan, dalam realita lelaki hari ini tak lebih sekadar pelengkap. Kondisi ini diperparah oleh kualifikasi Qowam yang masih belum jelas rinciannya. Ini menambah masalah jadi rumit terutama ketika berhadapan dengan perempuan yang karena kekuatan jendernya melakukan perlawanan terhadap dominasi lelaki. Konsepsi solehah selama ini dipersepsikan dengan prilaku yang anggun, taat kepada suami, mau mendengar nasihat dan indah dipandang oleh lelaki yang punya kualitas Qowam. Ini semua hilang begitu kesetaraan dipahami dalam konteks melawan kepemimpinan lelaki yang menjadi pasangannya. Padahal dalam Islam, suami yang boleh tidak ditaati itu bilamana ia mengajak ke arah maksiat dan menentang Allah.
Entahlah zaman sedang berbalik. Kalau ada orang lelaki yang hidupnya benar, sesuai dengan syariat Allah dijadikan musuh bersama. Tapi kalau ia salah, menuruti jalan syetan asal sesuai dengan pemikiran orang umum diberi pernghargaan. Kalau ada suami yang taat beragama, istrinya dihasut dengan pemikiran anti agama. Ajaran Islam dihujat dan dimaki agar pasangan suami istri ragu dengan agamanya. Begitu seterusnya hingga rusaklah bangunan sakral rumah tangga Islami. Para muslimah yang solehah, taat kepada suami ditakut-takuti dengan dampak poligami yang menyeramkan. Padahal justru yang menyeramkan adalah dampak zina bebas yang telah melahirkan penyakit HIV/AIDS.
Muslimah solehah saat ini akan diam seribu bahasa melihat maraknya seks bebas dimana-mana. Seolah –olah perbuatan seks bebas itu tidak berdampak pada murka Allah. Padahal dalam budaya seks bebas itu ada anak-anak kita yang harus dilindungi. Ada masyarakat kita yang harus dijauhkan dari prilaku yang merusak tersebut. Tapi coba kita lemparkan wacana poligami, muslimah solehah versi modern akan berteriak lantang menentang keras seraya menyebutkan dampaknya. Ribuan buku ditulis yang semuanya menyudutkan poligami. Jumlah bukunya jauh lebih banyak daripada buku yang membahas dalam seks bebas.
Makanya, menjadi solehah pada abad pertengahan tercermin dalam kita “Ngudulujain” yang menceritakan bagaimana suami istri saling mencintai dibawah naungan ridho Allah. Namun solehah saat ini dialihkan kepada bagaimana pasangan suami istri saling memusuhi dibawah komando Syetan. Jadi boro-boro mengejar keluarga sakinah, mawadah dan rahmah, sekadar hidup nyaman pun sulit. Kita dibuat saling curiga dan tidak percaya dengan pasangan. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertanggungjawab? ***
Langganan:
Postingan (Atom)