Hari ini aku begitu merindukanmu wahai sang guru? Saat itu aku tertatih-tatih menatap masa depan, kau rengkuh aku dalam kehangatan kasih sayangmu. Kau tenangkan aku saat degup jantung tak menentu. Kau usap kepala dengan untaian doa-doa, lalu kau bimbing aku mengenal bagaimana sebuah sistem kehidupan berputar. Kau ajari aku mengeja huruf hijaiyah, ya kehidupan itu persis dengan urutan huruf hijaiyah,dimulai dari huruf alif. Kesabaranmu mendidik agar aku memahami filosofi huruf hijaiyah lalu dirangkai dalam kalimat dan tanpa harokat, adalah sebuah kenangan indah. Apalagi saat aku bisa membaca huruf Arab gundul, aku bersukaria, ternyata disana ada banyak simbol kehidupan.
Kini puluhan tahun berlalu, tak terasa aku sudah tenggelam dalam lumpur kehidupan mengeja kembali huruf demi huruf kehidupan. Aku kembali ke titik nol ternyata kehidupan itu terangkai dalam huruf hijaiyah, aku sekarang sedang proses menuju huruf yang makin sulit di eja lagi, sebab huruf itu telah menjadi kalimat mustarok, satu kata tapi banyak makna. Satu sikap ternyata banyak makna, satu perbuatan ternyata banyak tafsir. Satu cinta ternyata sejuta rasa, satu kebencian ternyata beribu kedengkian, satu kebahagiaan ternyata seribu ungkapan. Begitu seterusnya hingga tak terbatas makna dan ungkapan, sebab semuanya mewakili perasaan manusia.
Wahai Sang Guru, pada saat seperti ini aku ingin sekali dekat dan mencium tanganmu, bersimpuh mengaji kembali seperti dahulu. Namun jarak yang demikian jauh membuatku harus bersabar bertemu denganmu. Aku berharap sang guru masih seperti dulu: tawadhu, qonaah, wirai, dan selalu menjaga muruah. Sebab disanalah ada kehormatan bagimu sang guru, karena sikapmu itu aku mau berguru. Sekarang banyak guru, tapi bukan guru yang mampu mendidik muridnya menyelami dasar samudra, sebab para guru sekarang hanya mampu di permukaan laut. Jiwanya gelisah dengan urusan dunia, sehingga tidak konsentrasi dengan muridnya. Guru semacam ini tidak akan pernah bisa menenangkan muridnya kala dicekam kesunyian.
Sang guru, aku kini sedang belajar tetap tawadhu meski ada kesempatan takabur. Aku belajar qonaah meski ada peluang riya dan pamer. Aku belajar wirai meski ada waktu untuk pongah. Aku belajar menjaga muruah, meski ada saja kesempatan bikin diri ini hina. Semua ini aku lakukan tak lain untuk menjaga sikap tawazun (keseimbangan) dalam kehidupan. Itu yang kau ajarkan, dan sekarang aku meridukan pengajaran itu, sebab kini aku terhempas dalam jihad dan pertarungan hidup yang makin sengit. Salamku untukmu sang guru.
Sabtu, 08 Mei 2010
Kerinduanku
Hari ini aku begitu merindukanmu wahai sang guru? Saat itu aku tertatih-tatih menatap masa depan, kau rengkuh aku dalam kehangatan kasih sayangmu. Kau tenangkan aku saat degup jantung tak menentu. Kau usap kepala dengan untaian doa-doa, lalu kau bimbing aku mengenal bagaimana sebuah sistem kehidupan berputar. Kau ajari aku mengeja huruf hijaiyah, ya kehidupan itu persis dengan urutan huruf hijaiyah,dimulai dari huruf alif. Kesabaranmu mendidik agar aku memahami filosofi huruf hijaiyah lalu dirangkai dalam kalimat dan tanpa harokat, adalah sebuah kenangan indah. Apalagi saat aku bisa membaca huruf Arab gundul, aku bersukaria, ternyata disana ada banyak simbol kehidupan.
Kini puluhan tahun berlalu, tak terasa aku sudah tenggelam dalam lumpur kehidupan mengeja kembali huruf demi huruf kehidupan. Aku kembali ke titik nol ternyata kehidupan itu terangkai dalam huruf hijaiyah, aku sekarang sedang proses menuju huruf yang makin sulit di eja lagi, sebab huruf itu telah menjadi kalimat mustarok, satu kata tapi banyak makna. Satu sikap ternyata banyak makna, satu perbuatan ternyata banyak tafsir. Satu cinta ternyata sejuta rasa, satu kebencian ternyata beribu kedengkian, satu kebahagiaan ternyata seribu ungkapan. Begitu seterusnya hingga tak terbatas makna dan ungkapan, sebab semuanya mewakili perasaan manusia.
Wahai Sang Guru, pada saat seperti ini aku ingin sekali dekat dan mencium tanganmu, bersimpuh mengaji kembali seperti dahulu. Namun jarak yang demikian jauh membuatku harus bersabar bertemu denganmu. Aku berharap sang guru masih seperti dulu: tawadhu, qonaah, wirai, dan selalu menjaga muruah. Sebab disanalah ada kehormatan bagimu sang guru, karena sikapmu itu aku mau berguru. Sekarang banyak guru, tapi bukan guru yang mampu mendidik muridnya menyelami dasar samudra, sebab para guru sekarang hanya mampu di permukaan laut. Jiwanya gelisah dengan urusan dunia, sehingga tidak konsentrasi dengan muridnya. Guru semacam ini tidak akan pernah bisa menenangkan muridnya kala dicekam kesunyian.
Sang guru, aku kini sedang belajar tetap tawadhu meski ada kesempatan takabur. Aku belajar qonaah meski ada peluang riya dan pamer. Aku belajar wirai meski ada waktu untuk pongah. Aku belajar menjaga muruah, meski ada saja kesempatan bikin diri ini hina. Semua ini aku lakukan tak lain untuk menjaga sikap tawazun (keseimbangan) dalam kehidupan. Itu yang kau ajarkan, dan sekarang aku meridukan pengajaran itu, sebab kini aku terhempas dalam jihad dan pertarungan hidup yang makin sengit. Salamku untukmu sang guru.
Kini puluhan tahun berlalu, tak terasa aku sudah tenggelam dalam lumpur kehidupan mengeja kembali huruf demi huruf kehidupan. Aku kembali ke titik nol ternyata kehidupan itu terangkai dalam huruf hijaiyah, aku sekarang sedang proses menuju huruf yang makin sulit di eja lagi, sebab huruf itu telah menjadi kalimat mustarok, satu kata tapi banyak makna. Satu sikap ternyata banyak makna, satu perbuatan ternyata banyak tafsir. Satu cinta ternyata sejuta rasa, satu kebencian ternyata beribu kedengkian, satu kebahagiaan ternyata seribu ungkapan. Begitu seterusnya hingga tak terbatas makna dan ungkapan, sebab semuanya mewakili perasaan manusia.
Wahai Sang Guru, pada saat seperti ini aku ingin sekali dekat dan mencium tanganmu, bersimpuh mengaji kembali seperti dahulu. Namun jarak yang demikian jauh membuatku harus bersabar bertemu denganmu. Aku berharap sang guru masih seperti dulu: tawadhu, qonaah, wirai, dan selalu menjaga muruah. Sebab disanalah ada kehormatan bagimu sang guru, karena sikapmu itu aku mau berguru. Sekarang banyak guru, tapi bukan guru yang mampu mendidik muridnya menyelami dasar samudra, sebab para guru sekarang hanya mampu di permukaan laut. Jiwanya gelisah dengan urusan dunia, sehingga tidak konsentrasi dengan muridnya. Guru semacam ini tidak akan pernah bisa menenangkan muridnya kala dicekam kesunyian.
Sang guru, aku kini sedang belajar tetap tawadhu meski ada kesempatan takabur. Aku belajar qonaah meski ada peluang riya dan pamer. Aku belajar wirai meski ada waktu untuk pongah. Aku belajar menjaga muruah, meski ada saja kesempatan bikin diri ini hina. Semua ini aku lakukan tak lain untuk menjaga sikap tawazun (keseimbangan) dalam kehidupan. Itu yang kau ajarkan, dan sekarang aku meridukan pengajaran itu, sebab kini aku terhempas dalam jihad dan pertarungan hidup yang makin sengit. Salamku untukmu sang guru.
Minggu, 02 Mei 2010
Dahsyatnya Takdir
Perbincangan masalah takdir Allah sudah seumur dunia ini. Namun selama itu pula perbincangan tidak menghasilkan kesimpulan, namun secara garis besar takdir menjadi titik awal melangkah atau justru titik akhir manusia. Dalam konteks inilah lahir sejumlah aliran teologis yang semua berangkat dari perdebatan masalah takdir. Kaum yang menerima takdir tanpa upaya menghidupkan logika dikenal dengan nama kaum Jabariah. Mereka merespons takdir dengan apa adanya, sehingga semua yang dialami manusia diterima tanpa ada upaya ikhtiar yang maksimal.
Selanjutnya pihak yang menggunakan akal berpendapat bahwa takdir tidak berlaku secara kaku selama manusia masih punya kekuatan ikhtiar merubah dirinya. Dalam kaitan takdir itu ada peluang usaha dengan begitu, takdir masih bisa disiasati. Kaum ini dikenal sebagai aliran Qodariah yang belakangan berkembang menjadi aliran Mu'tazilah. Kaum inilah yang hingga sekarang bertahan hidup karena tradisi pemikiran mereka terus berlangsung. Dalam konteks modernisasi, tampaknya aliran ini yang bisa digunakan menjawab masa depan, sebab dengan kekuatan logika, kita bisa berijtihad.
Selanjutnya pihak yang menggunakan akal berpendapat bahwa takdir tidak berlaku secara kaku selama manusia masih punya kekuatan ikhtiar merubah dirinya. Dalam kaitan takdir itu ada peluang usaha dengan begitu, takdir masih bisa disiasati. Kaum ini dikenal sebagai aliran Qodariah yang belakangan berkembang menjadi aliran Mu'tazilah. Kaum inilah yang hingga sekarang bertahan hidup karena tradisi pemikiran mereka terus berlangsung. Dalam konteks modernisasi, tampaknya aliran ini yang bisa digunakan menjawab masa depan, sebab dengan kekuatan logika, kita bisa berijtihad.
Jumat, 26 Maret 2010
Syukur
Ilmu yang terbatas sangat berpengaruh dengan rasa syukur. Mereka yang ilmu dan pengalaman kurang senantiasa tidak bisa merasakan syukur sebab dalam dirinya selalu tertanam kekuarangan dan kegelisahan. Padahal kalau mau diteliti dan dicermati, ada banyak nikmat yang selalu diterima dari Allah. Namun karena sudah sangat terbiasa, nikmat itu serasa bukan nikmat.
Minggu, 24 Januari 2010
Salah dan Benar
Salah belum tentu sebuah kejahatan, namun setiap kejahatan pasti ada kesalahan. Demikian juga benar belum tentu baik, karena banyak kebenaran yang berdimensi keburukan. Salah- dalam pandangan umum- selalu dimaknai sebagai kejahatan meski kesalahan itu sangat manusiawi dan subyektif. Tapi kadang sebuah kejahatan tidak selalu dimaknai sebagai kejahatan bila pelakunya diposisikan sebagai pihak yang terzalimi. Orang semuanya benci dengan prilaku jahat, tapi kalau ada pelaku kejahatan dizalimi, disiksa dan dimaki, yang timbul kemudian adalah simpati. Malah kadang korban kejahatan menjadi kasihan dan melindungi sang penjahat.
Alkisah ada seorang yang disakiti dengan cara diguna-guna. Pelakunya seorang lelaki yang tentu saja sangat hebat dan punya jaringan. Korban lansung linglung dan setengah gila. Secara kasat mata yang dialami si korban adalah kejahatan, apalagi mengancam jiwa sang korban. Namun sang pelaku bukannya menjadi musuh bersama, dia justru mendapatkan simpati dari sang korban. Diam-diam si korban mencintainya, ia lupa kejahatan sang lelaki yang telah menggunainya. Usut punya usut cinta si korban itu tumbuh tatkala nama lelaki itu dibenci orang dan disudutkan. Sebaliknya ada kisah yang justru memprihatinkan. Orang baik malah jadi korban hanya gara-gara kebaikan orang tersebut sirna oleh silaunya si penjahat.
Belajar dari kisah diatas, ada baiknya jika kita dalam posisi benar dan baik, tidak ikut berkomentar apapun tentang kejahatan orang sebab bisa-bisa malah kita yang tertuduh. Benar-dalam pandangan umum- berarti tidak dalam posisi salah, namun ini belum tentu baik. Orang baik juga belum tentu benar jika berada dalam posisi dilematis dan kurang mendukung. Ada banyak orang yang merasa benar,tapi prilakunya tidak baik, maka kebenaran dia tidak bermakna apa-apa. Sebaliknya dia aslinya baik dan benar, tapi ia terperangkap dalam keputusan yang salah dan jahat, maka semuanya tidak berarti apa-apa.
Alkisah ada seorang yang disakiti dengan cara diguna-guna. Pelakunya seorang lelaki yang tentu saja sangat hebat dan punya jaringan. Korban lansung linglung dan setengah gila. Secara kasat mata yang dialami si korban adalah kejahatan, apalagi mengancam jiwa sang korban. Namun sang pelaku bukannya menjadi musuh bersama, dia justru mendapatkan simpati dari sang korban. Diam-diam si korban mencintainya, ia lupa kejahatan sang lelaki yang telah menggunainya. Usut punya usut cinta si korban itu tumbuh tatkala nama lelaki itu dibenci orang dan disudutkan. Sebaliknya ada kisah yang justru memprihatinkan. Orang baik malah jadi korban hanya gara-gara kebaikan orang tersebut sirna oleh silaunya si penjahat.
Belajar dari kisah diatas, ada baiknya jika kita dalam posisi benar dan baik, tidak ikut berkomentar apapun tentang kejahatan orang sebab bisa-bisa malah kita yang tertuduh. Benar-dalam pandangan umum- berarti tidak dalam posisi salah, namun ini belum tentu baik. Orang baik juga belum tentu benar jika berada dalam posisi dilematis dan kurang mendukung. Ada banyak orang yang merasa benar,tapi prilakunya tidak baik, maka kebenaran dia tidak bermakna apa-apa. Sebaliknya dia aslinya baik dan benar, tapi ia terperangkap dalam keputusan yang salah dan jahat, maka semuanya tidak berarti apa-apa.
Jumat, 15 Januari 2010
Menjadi Bijak
Orang bijak itu bukan orang yang tidak pernah salah. Tapi orang yang selalu belajar dari setiap kesalahan yang terjadi untuk dijadikan pelajaran ke depan. Dengan demikian prilakunya setiap hari selalu berubah menjadi baik dan mampu memahami setiap permasalahan dengan hati jernih. Hatinya mampu membaca setiap tanda-tanda tersembunyi di balik permasalahan yang muncul. Makanya pikirannya selalu terbuka menerima gagasan baru meski itu bertentangan dengan pandangannya.
Kemampuan untuk "memahami" adalah pintu masuk bagi mereka yang menempuh jalan menuju kajikan dan ke-bijak-an yang agung. Mereka yang hati dan pikirannya terbuka untuk memahami akan senantiasa berada dalam pencerahan. Inilah yang melatari orang bijak sanggup menerima dan menahan setiap permasalahan tanpa harus hancur dan larut dalam permasalahan. Ia penyelesai masalah bukan pembuat masalah, karena wawasan dan kemampuannya memahami telah menjadikan dirinya manusia mumpuni.
Untuk menjadi orang bijak, tentu saja tidak bisa sendirian, ia memerlukan proses panjang dan penuh liku. Dia harus terjun ke kancah dan konflik sehingga ia akan teruji mampukah menyelesaikan konflik secara dewasa. Disinilah kenapa banyak orang tak sanggup menjalani proses menjadi bijak, karena nafsu emosi sudah duluan muncul sebelum akal sehat dan ruhani bekerja.**
Kemampuan untuk "memahami" adalah pintu masuk bagi mereka yang menempuh jalan menuju kajikan dan ke-bijak-an yang agung. Mereka yang hati dan pikirannya terbuka untuk memahami akan senantiasa berada dalam pencerahan. Inilah yang melatari orang bijak sanggup menerima dan menahan setiap permasalahan tanpa harus hancur dan larut dalam permasalahan. Ia penyelesai masalah bukan pembuat masalah, karena wawasan dan kemampuannya memahami telah menjadikan dirinya manusia mumpuni.
Untuk menjadi orang bijak, tentu saja tidak bisa sendirian, ia memerlukan proses panjang dan penuh liku. Dia harus terjun ke kancah dan konflik sehingga ia akan teruji mampukah menyelesaikan konflik secara dewasa. Disinilah kenapa banyak orang tak sanggup menjalani proses menjadi bijak, karena nafsu emosi sudah duluan muncul sebelum akal sehat dan ruhani bekerja.**
Langganan:
Postingan (Atom)