“Berdoalah kepadaku, niscaya doamu Aku kabulkan”. Begitulah Allah berfirman dalam Al-Quran. Dalam Islam, doa merupakan jantungnya ibadah, sebab lewat doa itulah kita berkomunikasi dan berasyikmasyuk kepada Allah. Dan Allah sangat senang mendengar hambanya merintih berdoa memohon kepada-Nya. Itulah sebabnya Allah cemburu kepada hambanya yang enggan berdoa kepada-Nya, apalagi malah berdoa kepada selain Allah. Dalam hadis qudsi Allah bersabda: Aku cemburu kepada hamba-Ku yang meminta kepada selain Aku. Padahal Akulah yang mencukupi keperluannya”. Ini adalah penegasan betapa Allah sangat memperhatikan doa hamba-Nya.
Karena itu seorang hamba yang selalu berdoa akan lancar mengkomunikasikan semua isi hatinya kepada Allah. Dan hatinya pun akan terasa ringan, tenang, bening dan bercahaya karena tidak ada beban lagi yang menindih. Sebab semuanya sudah dipasrahkan kepada Allah lewat doa-doanya. Wajah mereka yang senantiasa berdoa terlihat cerah dan optimis, karena yakin Allah ada disisinya. Makanya hidup mereka juga berjalan alamiah dan senantiasa diberkahi. Ia terus berdoa dan berdoa seraya tidak memikirkan apakah doanya dikabulkan atau tidak, sebab baginya doa adalah ungkapan jiwa.
Ketika kita diberi nikmat, doa adalah ungkapan syukur. Ketika kita diberi cobaan dan musibah, doa merupakan ungkapan kepasrahan. Ketika kita terjebak dalam dosa, doa adalah nyanyian pertobatan. Ketika kita dalam ketaatan, doa adalah alat komunikasi seorang hamba kepada penciptanya. Makanya masalah dikabul atau tidaknya doa merupakan kewenangan Allah, sebab hanya Dia yang maha mengetahui apa terbaik buat hamba-Nya. Tidak semua doa dikabulkan seketika, tapi melalui proses hukum alam.Namun ada juga yang dikabul tanpa proses alam. Tapi semua ini bukan urusan makhluk tapi hak prerogatif Allah.
Tugas kita sebagai hamba adalah hanya berdoa. Ada apa dengan doa sehingga Islam mewajibkan berdoa? Doa sebagai alat komunikasi mengandung sejumlah kekuatan dahsyat melebihi bom atom. Daya ledak dan dobraknya sangat luar biasa, terutama bila diucapkan oleh hamba yang berhati bersih, pancarannya akan sangat kuat. Masih ragukah kita ?***
Sabtu, 17 Oktober 2009
Jumat, 09 Oktober 2009
Menjadi Pelayan Allah
"Wahai Duniaku, layanilah hambaku yang melayani Aku", demikian Tuhan bersabda dalam sebuah Hadits Qudsi. Sebagai orang beriman tidak semestinya gelisah dengan dunia selama ia bersandar kepada Allah. Dengan hanya bersandar kepada Allah, dunia dan seisinya akan ditundukkan dan melayani orang beriman. Namun sekarang terbalik, banyak orang justru menjadi pelayan dunia. Siang malam waktunya habis untuk mengurus dunia sehingga lupa melayani Allah sang pemilik dunia.
Dengan menjadi pelayan dunia, secara tidak langsung kita menghamba kepada Makhluk. Ini merupakan petaka dan bencana, ditambah lagi jika menjadikan manusia sebagai sandaran. Padahal yang namanya makhluk tidak kekal dan akan binasa. Kita hidup bukan untuk menyenangkan semua manusia, juga bukan untuk menyusahkan semua orang. Tapi kita hidup untuk yang maha Hidup, karena dari sana semua berawal dan berakhir.
Karena itu, kini saatnya kita melepas semua atribut dunia yang melenakan dan mempesona. Kita kembali kepada Allah untuk kehidupan yang kekal. Semoga dengan kita kembali ke Allah, semua isi dunia akan tunduk. Amin.
Dengan menjadi pelayan dunia, secara tidak langsung kita menghamba kepada Makhluk. Ini merupakan petaka dan bencana, ditambah lagi jika menjadikan manusia sebagai sandaran. Padahal yang namanya makhluk tidak kekal dan akan binasa. Kita hidup bukan untuk menyenangkan semua manusia, juga bukan untuk menyusahkan semua orang. Tapi kita hidup untuk yang maha Hidup, karena dari sana semua berawal dan berakhir.
Karena itu, kini saatnya kita melepas semua atribut dunia yang melenakan dan mempesona. Kita kembali kepada Allah untuk kehidupan yang kekal. Semoga dengan kita kembali ke Allah, semua isi dunia akan tunduk. Amin.
Kamis, 01 Oktober 2009
Makna Sebuah Peristiwa
Setiap peristiwa baik manis atau pahit selalu menyisakan bahan renungan. Malah Allah sengaja menjadikan kisah dan peristiwa sebagai wahana penyampaian pelajaran kepada manusia. Makanya banyak ayat dalam ALquran yang menyitir kisah yang berskala besar dan peristiwa monumental. Semua itu dimaksudkan sebagai ibroh khasanah, yakni dimabil baiknya. Kalau kita mendengar kisah buruk, berarti kita diperintah agar tidak ikut celaka. Sedangkan kisah kebaikan, kita diperintah untuk meneladani agar hidup kita menjadi lebih baik dan berkualitas.
Kisah biasannya menyangkut perjalanan manusia dan peradabannnya. Disana manusia yang anti Tuhan dan yang taat beriman bersaiang menguasai bumi yang dipijak ini. Kalau bumi dikuasai angkara murka, kerusakan yang terjadi. Sebaliknya saat bumi di bawah genggaman manusia beriman, disanalah lahir kebudayaan dan peradaban yang masyhur dan monumental.Begitu seterusnya selisih berganti, itulah sunattulah perputaran sejarah.
Kemudian yang menyangkut peristiwa, biasanya Allah menyitir peristiwa gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. Pada saat bumi dikuasai angkara murna dan kemusrikan, Allah menurunkan azab untuk menghukum kesombongan manusia. Namun tidak semua peristiwa adalah hukuman, tapi kadang ujian agar manusia segera kembali kepada jalan yang benar dan mendekat kepada sang pencipta.
Gempa bumi yang melanda saat ini boleh jadi merupakan pelajaran agar kita bertaubat atas kesalahan dan kezaliman kita sebagai manusia. Ini bagi mereka yang masih bisa disentuh hatinya. Sedangkan bagi yang ingkar, mungkin ini hukuman. Bagaimana dengan orang beriman ? Gempa bumi ini merupakan kasih sayang Allah untuk menguji keimanan dan meningkatkan kualitas amal soleh kita. Amin ***
Kisah biasannya menyangkut perjalanan manusia dan peradabannnya. Disana manusia yang anti Tuhan dan yang taat beriman bersaiang menguasai bumi yang dipijak ini. Kalau bumi dikuasai angkara murka, kerusakan yang terjadi. Sebaliknya saat bumi di bawah genggaman manusia beriman, disanalah lahir kebudayaan dan peradaban yang masyhur dan monumental.Begitu seterusnya selisih berganti, itulah sunattulah perputaran sejarah.
Kemudian yang menyangkut peristiwa, biasanya Allah menyitir peristiwa gempa bumi, gunung meletus dan tsunami. Pada saat bumi dikuasai angkara murna dan kemusrikan, Allah menurunkan azab untuk menghukum kesombongan manusia. Namun tidak semua peristiwa adalah hukuman, tapi kadang ujian agar manusia segera kembali kepada jalan yang benar dan mendekat kepada sang pencipta.
Gempa bumi yang melanda saat ini boleh jadi merupakan pelajaran agar kita bertaubat atas kesalahan dan kezaliman kita sebagai manusia. Ini bagi mereka yang masih bisa disentuh hatinya. Sedangkan bagi yang ingkar, mungkin ini hukuman. Bagaimana dengan orang beriman ? Gempa bumi ini merupakan kasih sayang Allah untuk menguji keimanan dan meningkatkan kualitas amal soleh kita. Amin ***
Atas Nama Cinta
Atas nama cinta, orang sering memaksakan kehendaknya agar diberikan balasan yang sama. Namun kebanyakan pecinta jarang menyadari bahwa cinta itu punya jiwa sendiri. Ia bekerja di alam bawah sadar yang mengendalikan semua aktifitas manusia. Kadang kita sering terjebak mana suara getaran cinta dan mana yang sedang bisikan hewaniyah. Semua bercampur dalam balutan getaran, sehingga bagi mereka yang tidak punya filter selalu menafsirkan itulah cinta. Padahal ada getaran nafsu yang bersembunyi dalam indahnya cinta, sehingga yang dicintai tidak sadar ia dalam bahaya.
Kini kalau kita melihat banyak korban atas nama cinta, sejatinya mereka bukan terkena kejahatan cinta, tapi kejahatan nafsu yang berbaju cinta. Inilah awal petaka umat manusia. Kalau begitu bagaimana kita memaknai semua ini ? Seorang guru sufi bercerita, cinta itu semakin misterius saat kita mempertanyakan kedalamannya.Semakin bertanya semakin sulit mencari jawabannya, namun ia ada bersama kehidupan dan menopang kehidupan manusia. Maka seharusnya cinta itu mengabadikan hubungan manusia, namun kenyataannya atas nama cinta kita saling membenci dan merusak tatanan. Kita semakin egois dengan mengatasnamakan cinta. ***
Kini kalau kita melihat banyak korban atas nama cinta, sejatinya mereka bukan terkena kejahatan cinta, tapi kejahatan nafsu yang berbaju cinta. Inilah awal petaka umat manusia. Kalau begitu bagaimana kita memaknai semua ini ? Seorang guru sufi bercerita, cinta itu semakin misterius saat kita mempertanyakan kedalamannya.Semakin bertanya semakin sulit mencari jawabannya, namun ia ada bersama kehidupan dan menopang kehidupan manusia. Maka seharusnya cinta itu mengabadikan hubungan manusia, namun kenyataannya atas nama cinta kita saling membenci dan merusak tatanan. Kita semakin egois dengan mengatasnamakan cinta. ***
Rabu, 23 September 2009
Kebaikan Yang Membunuh
Tuhan senantiasa menyuruh ummat-Nya untuk berbuat baik. Namun dalam kenyataannya, kebaikan telah dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga kita makin sulit membedakan mana kebaikan yang tulus dan palsu.Mereka yang mendarmakan hidupnya demi ketulusan kini justru jadi pecundang dan musuh bersama. Sedangkan mereka yang mengemas kepalsuan menjadi kebaikan menjadi pahlawan yang dipuja-puja. Ketulusan yang sedarah dengan keikhlasan kini makin dibenci manusia.
Setiap kebaikan apapun bentuknya kini selalu dibumbui dengan kepentingan dan motif riya dan pamer. Kita memberi karena ingin imbalan dari manusia, demi gengsi, atau jabatan prestise. Kalau yang kita beri kebaikan tak memberikan imbalan, kita pun marah-marah. Sekarang lebih lucu lagi, para penerima kebaikan sekarang sering marah-marah hanya karena sang pemberi kebaikan terlalu tulus dan ikhlas. Mengapa marah ? Karena mereka yang ikhlas tidak mau kebaikannya rusak oleh riya, kesombongan dan pujian manusia. Makanya orang yang ingin menyembunyikan amalnya kini bisa dicurigai.
Seorang guru sufi menjelaskan, kebaikan yang tidak ikhlas, palsu dan penuh trik kejahatan sesungguhnya itulah kebaikan yang membunuh. Mereka seperti memberikan madu, tapi sejatinya racun yang diberikan. Berapa banyak orang yang masuk penjara dan mati hina dina hanya gara-gara menerima suap, uang korupsi dan uang haram lainnya atas nama amal? Memberikan kebaikan dari sumber yang haram sesungguhnya membunuh si penerima dengan cara yang keji.
Tapi dunia memang sudah gila, banyak orang yang berbahagia menerima kebaikan yang bersumber dari sesuatu yang haram. Mereka sudah tidak mau mengaudit lagi dari mana asal usul kebaikan. Sehingga jangan salahkan jika kemudian Tuhan murka dengan caranya sendiri. Jangan pula marah jika Tuhan mencabut berkah-Nya. Akhirnya, semua kembali kepada kita, mau tetap bersih dan ikhlas dalam memberikan kebaikan, atau menjual kebaikan palsu untuk kepentingan kita.***
Setiap kebaikan apapun bentuknya kini selalu dibumbui dengan kepentingan dan motif riya dan pamer. Kita memberi karena ingin imbalan dari manusia, demi gengsi, atau jabatan prestise. Kalau yang kita beri kebaikan tak memberikan imbalan, kita pun marah-marah. Sekarang lebih lucu lagi, para penerima kebaikan sekarang sering marah-marah hanya karena sang pemberi kebaikan terlalu tulus dan ikhlas. Mengapa marah ? Karena mereka yang ikhlas tidak mau kebaikannya rusak oleh riya, kesombongan dan pujian manusia. Makanya orang yang ingin menyembunyikan amalnya kini bisa dicurigai.
Seorang guru sufi menjelaskan, kebaikan yang tidak ikhlas, palsu dan penuh trik kejahatan sesungguhnya itulah kebaikan yang membunuh. Mereka seperti memberikan madu, tapi sejatinya racun yang diberikan. Berapa banyak orang yang masuk penjara dan mati hina dina hanya gara-gara menerima suap, uang korupsi dan uang haram lainnya atas nama amal? Memberikan kebaikan dari sumber yang haram sesungguhnya membunuh si penerima dengan cara yang keji.
Tapi dunia memang sudah gila, banyak orang yang berbahagia menerima kebaikan yang bersumber dari sesuatu yang haram. Mereka sudah tidak mau mengaudit lagi dari mana asal usul kebaikan. Sehingga jangan salahkan jika kemudian Tuhan murka dengan caranya sendiri. Jangan pula marah jika Tuhan mencabut berkah-Nya. Akhirnya, semua kembali kepada kita, mau tetap bersih dan ikhlas dalam memberikan kebaikan, atau menjual kebaikan palsu untuk kepentingan kita.***
Indahnya Cobaan
Bisakah yang namanya cobaan dan kesulitan menjadi indah di mata manusia? Kalau melihat kodrat manusia yang tidak mau sulit dan bersusah payah, maka semua hal yang bikin tidak enak pasti dihindari oleh manusia.Jutaan rupiah telah dihabiskan oleh manusia untuk menghindari cobaan dan kesulitan. Sebagian berhasil dan kebanyakan manusia gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan. Bagi yang berhasil mengatasi cobaan dan kesulitan, ia dikatakan sukses hidupnya. Sebaliknya yang gagal menjalani akan terjerumus dalam kelam, sunyi dan suram. Semua ini akan senantiasa menyertai jalan hidup manusia sampai ajal menjemput. Jadi dimanakah indahnya cobaan?
Seorang guru sufi menjelaskan,cobaan dan kesulitan hakekatnya adalah pil pahit yang menyehatkan bagi manusia. Ia bisa menjadi penyembuh bagi mereka yang masih memaknai hidup adalah semangat dan optimis. Sebaliknya bagi yang sudah menurun semangat hidupnya, diberi pil pahit justru makin parah penyakitnya. Ia akan lunglai dan terjebak dalam kemurungan yang akhirnya hancur hidupnya. Ia menjemput akhir hayat dengan muka kecut dan pedih.Berapa banyak manusia yang tenggelam dalam kehinaan hanya gara-gara gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan?
Kini makin jelaslah bahwa cobaan dan kesulitan selama menjalani kehidupan akan terasa indah manakala dimaknai sebagai obat. Tak ada yang perlu disesali dan diratapi semua yang telah terjadi. Optimisme adalah bagaimana kita mampu mengubur kepahitan dalam samudra kelapangan untuk menjemput masa depan yang cerah. Terlalu sayang jika hidup yang singkat ini hanya diisi dengan kemurungan, keputusasaan dan semua aktifitas yang membawa kehancuran.
Orang beriman akan terus berjihad mengubah kepahitan menjadi manis. Orang berimana menerima cobaan sebagai lahan amal, karena dengan cobaan tersebut kita bisa bersyukur, bersabar dan banyak meminta ampun. Cobaan dan kesulitan adalah tanda sayang dari Allah kepada hamba-Nya. Kalau begitu semestinya cobaan dan kesulitan makin indah...***
Seorang guru sufi menjelaskan,cobaan dan kesulitan hakekatnya adalah pil pahit yang menyehatkan bagi manusia. Ia bisa menjadi penyembuh bagi mereka yang masih memaknai hidup adalah semangat dan optimis. Sebaliknya bagi yang sudah menurun semangat hidupnya, diberi pil pahit justru makin parah penyakitnya. Ia akan lunglai dan terjebak dalam kemurungan yang akhirnya hancur hidupnya. Ia menjemput akhir hayat dengan muka kecut dan pedih.Berapa banyak manusia yang tenggelam dalam kehinaan hanya gara-gara gagal bersahabat dengan cobaan dan kesulitan?
Kini makin jelaslah bahwa cobaan dan kesulitan selama menjalani kehidupan akan terasa indah manakala dimaknai sebagai obat. Tak ada yang perlu disesali dan diratapi semua yang telah terjadi. Optimisme adalah bagaimana kita mampu mengubur kepahitan dalam samudra kelapangan untuk menjemput masa depan yang cerah. Terlalu sayang jika hidup yang singkat ini hanya diisi dengan kemurungan, keputusasaan dan semua aktifitas yang membawa kehancuran.
Orang beriman akan terus berjihad mengubah kepahitan menjadi manis. Orang berimana menerima cobaan sebagai lahan amal, karena dengan cobaan tersebut kita bisa bersyukur, bersabar dan banyak meminta ampun. Cobaan dan kesulitan adalah tanda sayang dari Allah kepada hamba-Nya. Kalau begitu semestinya cobaan dan kesulitan makin indah...***
Jumat, 18 September 2009
Muhasabah Cinta
Apa yang membuat semua kehidupan ini demikian harmonis dan indah ? Jawabnya adalah cinta, sebuah kata yang sarat dengan tafsir dan makna. Dengan cinta yang jauh jadi dekat, yang keras menjadi lembut dan yang lemah menjadi kuat. Tentu saja cinta yang diletakkan dalam bingkai rahmat dan ridho Allah, bukan cinta yang dibangun diatas pondasi nafsu syahwat . Cinta dibawah ridho Allah inilah yang akan menemukan keabadian. Ia akan terus menerus bermetamorfosis dan memperbarui dirinya agar terus membawa nikmat bagi manusia. Namun manusia banyak yang salah mempersepsi cinta dan kemudian mengacaukannya dengan nafsu, baik nafsu syahwat, kekuasaan dan ekonomis. Cinta yang semestinya menghidupkan, malah merusak dan mematikan pemiliknya. Ia membakar dan memusnahkan semuanya tanpa menyisakan apapun.Itulah yang termaktub dalam kisah-kisah peperangan antar kerajaan dan negara modern.
Cinta dan kebencian saling berebut ruang untuk menancapkan eksistensinya. Pada awalnya cinta menjadi senjata yang bisa merekatkan hubungan antar manusia. Namun ketika cinta tak sanggup menyatukan perbedaan, maka api permusuhanlah yang datang kemudian. Cinta pun sirna berganti menjadi kebencian yang akhirnya membakar. Ada banyak alasan mengapa kebencian begitu menguasai hati manusia, di antaranya adanya perasaan egois dan merasa lebih dibanding yang lain. Makanya mereka yang hatinya diliputi kebencian dan dendam akan terus melakukan kerusakan, penistaan dan melakukan kekejaman. Bangsa Yahudi dengan negara Israel-nya misalnya akan terus menebar kebencian dan teror kepada bangsa Palestina. Ini buah dari sebuah konstruksi kebencian yang berabad-abad.
Bagaimana dengan kita ? Secara individu, kita dikaruniai potensi cinta dan benci yang harus ditempatkan sesuai dengan ruang dan waktu. Cinta yang bersumber dari Allah harus ditempatkan dalam ruang dan waktu yang sesuai dengan keinginan Allah lewat wahyu-Nya. Ia harus tumbuh dalam ruang hati yang bersih hanya karena Allah, sehingga ketika cinta tersebut dipancarkan akan mendatangkan kemaslahatan kepada semua makhluk. Cinta yang membawa kemaslahatan ini tentu saja tidak akan lahir dari pribadi yang kotor dan hamba hawa nafsu. Cinta yang penuh ketulusan hanya tumbuh dalam pribadi insan beriman, bertauhid dan ma’riftullah. Masih adakah manusia jenis ini ? Tampaknya semakin langka.
Sekarang dunia dipenuhi cinta dan benci yang dipancarkan oleh manusia yang berhati kotor, busuk dan munafik. Orang jenis ini membalut cinta dengan kebencian sehingga cintanya bisa membunuh. Bila cintanya saja dapat membunuh, apatah lagi kebenciannya. Sederetan kasus kriminal yang termuat oleh media massa selalu bermotif asmara. Ini membuktikan betapa cinta yang dibumbui dengan nafsu melahirkan petaka yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini semua kembali kepada kita masing-masing, mau memilih yang mana.Setiap pilihan akan selalu membawa resiko, dan dari sanalah kita tahu mana yang paling baik untuk kita.***
Cinta dan kebencian saling berebut ruang untuk menancapkan eksistensinya. Pada awalnya cinta menjadi senjata yang bisa merekatkan hubungan antar manusia. Namun ketika cinta tak sanggup menyatukan perbedaan, maka api permusuhanlah yang datang kemudian. Cinta pun sirna berganti menjadi kebencian yang akhirnya membakar. Ada banyak alasan mengapa kebencian begitu menguasai hati manusia, di antaranya adanya perasaan egois dan merasa lebih dibanding yang lain. Makanya mereka yang hatinya diliputi kebencian dan dendam akan terus melakukan kerusakan, penistaan dan melakukan kekejaman. Bangsa Yahudi dengan negara Israel-nya misalnya akan terus menebar kebencian dan teror kepada bangsa Palestina. Ini buah dari sebuah konstruksi kebencian yang berabad-abad.
Bagaimana dengan kita ? Secara individu, kita dikaruniai potensi cinta dan benci yang harus ditempatkan sesuai dengan ruang dan waktu. Cinta yang bersumber dari Allah harus ditempatkan dalam ruang dan waktu yang sesuai dengan keinginan Allah lewat wahyu-Nya. Ia harus tumbuh dalam ruang hati yang bersih hanya karena Allah, sehingga ketika cinta tersebut dipancarkan akan mendatangkan kemaslahatan kepada semua makhluk. Cinta yang membawa kemaslahatan ini tentu saja tidak akan lahir dari pribadi yang kotor dan hamba hawa nafsu. Cinta yang penuh ketulusan hanya tumbuh dalam pribadi insan beriman, bertauhid dan ma’riftullah. Masih adakah manusia jenis ini ? Tampaknya semakin langka.
Sekarang dunia dipenuhi cinta dan benci yang dipancarkan oleh manusia yang berhati kotor, busuk dan munafik. Orang jenis ini membalut cinta dengan kebencian sehingga cintanya bisa membunuh. Bila cintanya saja dapat membunuh, apatah lagi kebenciannya. Sederetan kasus kriminal yang termuat oleh media massa selalu bermotif asmara. Ini membuktikan betapa cinta yang dibumbui dengan nafsu melahirkan petaka yang tak terbayangkan sebelumnya. Kini semua kembali kepada kita masing-masing, mau memilih yang mana.Setiap pilihan akan selalu membawa resiko, dan dari sanalah kita tahu mana yang paling baik untuk kita.***
Langganan:
Postingan (Atom)